Pages

Wahai Guru Takutlah Kegagalan Muridmu Disebabkan Karena Dirimu

Sebuah pribahasa mengatakan guru kencing berdiri murid kencing berlari, hal tersebut menggambarkan akan pentingnya sebuah keteladan yang di tunjukan oleh seorang guru terhadap muridnya, karena tatkala guru memberikan contoh yang tidak baik maka murid akan melakukan yang sama bahkan bisa jauh lebih buruk dari apa yang dilakukan guru.

Istilah lain yang terkenal di masyarakat mengatakan bahwa Guru meliputi sebuah singkatan yaitu seseorang yang harus di 'Gugu dan di Tiru' . Di gugu dalam arti setiap perintahnya di dengarkan dan di turuti juga setiap gerak dan prilakunya ditiru.

Begitulah kedudukan seorang guru dalam sebuah lingkungan sosial, terlebih dalam sebuah lembaga pendidikan guru harus benar-benar menjadi suri tauladan yang baik dalam segala aspek,tidak hanya berkaitan dengan baiknya pelajaran yang disampaikan melainkan  juga seluruh aktifitasnya, ahlak,Ibadah,aktivitas sosial,dan sebagainya.

Seorang guru harus memahami betul akan hal diatas bahwa kedudukanya tidak hanya sebagai seorang pengajar tetapi juga seorang pendidik, posisinya begitu sentral dalam kehidupan masyarakat,merekalah yang harus berperan menelurkan generasi terbaik untuk mengisi peradaban di masa depan.

Amanah sebagai seorang guru tidak hanya pada jam mengajar yang dibebankan beserta materi yang diampunya tetapi juga ada amanah yang lebih besar yaitu mendidik secara komperhensif pada jiwa dan raganya,mengisi jiwanya dengan ilmu bermanfaat bagi bekal dunianya juga mengenalkan kepada siapa Tuhanya sehingga dekat dengan agamanya kemudian menjadi kuat ibadahnya  selain itu mengasah raganya agar menjadi jiwa-jiwa yang tangguh pantang mengeluh,menjadi pribadi sehat dan kuat,sehinga dengan kesehatan ketahanan tubuhnya mampu menyusuri kehidupan dan membangun peradaban.

Dan hakikatnya seorang guru telah gagal dalam mendidik apabila anak didiknya pintar dalam ilmu matematika atau ilmu lainya,namun buruk dalam ahlak dan perangainya,juga buruk dalam bab ibadah dan ketataan kepada Tuhanya, seorang guru yang sejati adalah yang mampu mengenalkan seorang siswa kepada siapa Tuhanya  dengan pelajaran apapun yang disampaikanya.

Ada sebuah kisa yang patut di renungkan oleh seorang guru agar terhindar dari "guru  gagal" melalui uswah yang baik, suatu waktu ada seorang anak SD yang sangat nakal di kelas,lantas seorang guru memarahinya dengan kata-kata kasar dan hujatan, kemudian tanpa disadari ucapan guru tersebut menjadi buah bibir dikalangan anak-anak, kemudian dicontohnya untuk melakukan ejekan serupa kepada teman lainya. Pada kesempatan lain salah seorang orangtuapun mengeluhkan perlakuan dan ucapan anaknya menjadi kasar,ketika ditegur anak tersebut menuturkan bahwa dia mengikuti apa yang dilakukan gurunya. 

Juga terdapat kisah seorang guru yang suka berpacaran dengan siswanya dan menampakan kebiasaanya tersebut dihadapan siswa lainya, sang guru sering mengajak makan dan ngobrol siswa yang dipacarinya tersebut di jam kosong istirahat juga memboncengnya untuk di antarkan pulang, pemandangan tersebut tentu sangat memilukan karena akan menjadikan pembenaran untuk murid lainya melakukan hal yang serupa, pacaran bisa dilakukan kapan saja tanpa adab dan aturanya, dimana semestinya seorang guru harus menjaga privasinya hanya untuk konsumis pribadi bukan untuk di tampilkan dan menjadi konsumsi publik, bahkan lebih tepatnya seharusnya guru mampu mengerem laju kerusakan moral dan besarnya mudharat dari kebiasaan pacaran para siswa dengan mengarahkan dan membimbing sesuai dengan tuntutan agama bahwa pacaran bertentangan dengan syariat Islam juga mewanti-wanti para orangtua untuk senantiasa mengontrol dan mendampingi anak-anaknya dari setiap prilaku dan tumbuh kembangnya dengan perhatian, kehangatan dan kasih sayang, sehingga pada akhirnya guru berperan aktif menghilangkan budaya  pacaran yang sudah melekat pada masyarakat,bukan sebaliknya menjadikan tumbuh subur dengan mencontohkanya. 

Setiap orang memang punya kekurangan masing-masing juga punya ruang privasi tersendiri begitupun seorang guru,tapi hendaknya bagi seorang guru memahami betul posisinya sebagai seorang pendidik yang senantiasa menjadi pusat perhatian oleh anak didiknya juga masyarakat umum sehingga sesuatu yang bersifat sensitive cukuplah menjadi konsumsi diri sendiri dan jikalau itu bagian dari kekurangan maka harus ada langkah untuk memperbaikinya.


Menjadi guru yang ideal memang sepertinya terlihat begitu berat, namun jika kita mengingat potensi kebaikan yang akan dituai maka rasanya kita akan iktiar sekuat tenaga untuk bisa memberikan suri tauladan yang baik kepada anak didik. Lihatlah jaminan multilevel pahala dan tabungan kebaikan yang didapatkan oleh seorang guru yang tidak hanya di dapatkan ketika dunia saja tetapi juga mengalir sampai akhirat,sebagaimana yang kita tahu dari sebuah hadist Rasululullah bahwa 1 dari 3 amalan yang pahalanya mengalir sampai hari kiamat adalah Ilmu yang bermanfaat, seorang anak yang kita ajarkan maka bisa jadi beribu orang yang mereka ajarkan di kemudian dan begitu seterusnya,maka sepanjang itu pula kebaikan yang terus mengalir kepada kita. 

Begitupun sebaliknya takutlah kita menjadi seorang pendidik yang tidak amanah satu percontohan yang buruk yang kita ajarkan kepada anak didik baik dengan sengaja atau tidak sengaja,maka keburukanya tidak hanya dikenal di kalangan manusia selama hidup di dunia tapi juga pertanggungjawaban yang berat di akhirat.

Siapapun diri kita yang saat ini Allah takdirkan mendapatkan amanah  menjadi seorang guru,semoga Allah mengaruniakan banyak kebaikan kepada kita sehingga kitapun mampu memberikan kebaikan kepada anak didik kita. Aamiin


Abu Ubaidillah -Lembang - 03/03/2016

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment