Pages

Anda gemar membaca, sudah lakukan ini belum ?

ilustrasi
Punya kebiasaan membaca adalah karunia besar yang patut di syukuri,  bagaimana tidak, dengan hal tersebut setidaknya kita sudah punya kunci untuk menggenggam berbagai ilmu pengetahuan, seperti sebuah selogan yang sering kita dengar saat masa sekolah dasar dulu, bahwa "membaca adalah gudangnya ilmu". Hal itu benar adanya mengingat semua ilmu pengetahuan yang ada di dunia ini tertulis dalam sebuah buku. 

Tidak hanya itu, aktifitas membaca juga mendatangkan segudang manfaat yang bisa kita dapatkan, seperti yang di kutip pada laman www.readerdigest.co.id bahwa manfaat dari membaca buku diantaranya dapat memperkuat memori otak, menjaga keremajaan otak, dan menghilangkan stres, bahkan orang yang terbiasa membaca buku dapat terhindar dari penyakit alzheimer (penyakit menurunya fungsi otak yang di tandai melemahnya daya ingat), yang semua hal tersebut telah di buktikan oleh pendapat para ahli yang melakukan penelitian. 

Patut bersyukur pula bagi kita yang sudah punya kebiasaan membaca buku karena ternyata survei yang di lakukan kantor kepustakaan Indonesia bahwa hanya sekitar 10% saja orang indonesia yang gemar membaca buku,itupun rata-rata dilakukan oleh kalangan akademisi sebagai penyubambang terbesarnya sisanya hanya sebagian kecil saja dari masyarakat umum yang memiliki kebiasaan membaca buku.

Namun atas rasa syukur tersebut ada beberapa hal yang mesti kita perhatikan betul dalam aktifitas membaca buku agar tidak hanya mendatangkan manfaat dalam ilmu pengetahuan dan kesehatan tetapi juga maslahat dan keberkahan yang menjadi tabungan amal kebaikan. 

Bagi kita umat Islam secara umum kita mengenal pembagian jenis ilmu kedalam dua bagian yaitu ilmu yang bersifat fardu ain (wajib di pelajari setiap orang) dan ilmu bersifat fardu kifayah (ilmu yang cukup di pelajari sebagian orang saja)

Contoh ilmu yang bersifat fardu ain adalah ilmu yang berkaitan dengan Ilmu keagamaan seperti halnya ilmu tentang bagaimana tata cara ibadah, shalat, zakat, puasa, dll. Ataupun ilmu yang bersifat muamalah yaitu seperti ilmu tentang halal haram dalam perniagaan,dsb. 
Juga ilmu yang bersifat fardu kifayah seperti ilmu kedokteran, ilmu kebumian, astronomy,dll.

Kedua klasifikasi ilmu diatas memiliki porsi berbeda dalam pengamalanya, dimana ilmu yang bersifat fardu ain adalah hukumnya mutlak wajib ketahui oleh setiap orang, jika hal tersebut terlewat maka ia telah berdosa karena telah melalaikanya. Berbeda dengan ilmu yang bersifat fardu kifayah maka tatkala ada umat islam lainya yang telah mempelajari ilmu tersebut maka ia terbebas dari dosa. 

Dan ilmu yang bersifat fardu ain adalah ilmu yang harus di utamakan dan di dahulukan sebelum mempelajari ilmu yang bersifat fardu kifayah seperti halnya ilmu tentang shalat dan ilmu matematika maka mempelajari ilmu tentang tata cara shalat haruslah di dahulukan sebelum mempelajari ilmu matematika,begitupun juga ilmu-ilmu lainya. 

Yang jadi permasalahan umum sekarang Ini adalah sebagian besar pola pendidikan yang terbangun  di masyarakat telah melewatkan ilmu yang seharusnya di utamakan yaitu ilmu yang bersifat fardu ain, dengan lebih mengutamakan mempelajari ilmu yang bersifat fardu kifayah, hal tersebut di dukung pula oleh sistem pendidikan di negri ini yang kurang pro terhadap ilmu-ilmu keagamaan seperti halnya saat anak masuk sekolah dasar seorang siswa sudah di jejali dengan ilmu eksak yang membingungkan, tanpa di imbangi dengan muatan pendidikan berbasis kemoralan yang di ambil dari sumber agama sebagai batu peletak terbangunya moral yang baik bagi generasi di kemudian. Maka tidak salah jika kita melihat generasi anak sekolah saat ini yang kian hancur berantakan karena tak ada kekuatan ilmu agama yang dapat membentengi dan mengendalikan dirinya. 

Hal tersebut terbawa sampai usia dewasa sehingga dari persentasi 10% orang yang gemar membaca buku kita bisa menelaah sendiri kira-kira berapa persen orang yang mengimbangi dengan porsi ilmu fardu ain, bisa jadi hanya sebagian kecil saja. 

Sayapun telah mencoba melakukan penelitian sekala kecil di lingkungan tempat saya mengajar,  dari jumlah persentasi siswa hanya 5% saja yang gemar membaca buku, dan dari 5% tersebut hanya sekitar 0,05% saja  yang mengimbanginya dengan membaca buku-buku ke-Islama/bernuansa Islam, dalam arti hanya 1% saja siswa yang suka membaca buku ke-Islaman dari jumlah 5% siswa apabila di genapkan menjadi 100%. Sisanya mereka lebih tertarik membaca novel ataupun buku lainya yang tidak berkaitan dengan ilmu agama. 

Maka dari itu bagi kita yang sudah terbangun kebiasaan membaca agar hendaknya memperhatikan kaidah di atas, dari segudang keperluan kita terhadap referensi buku hedaknya menyisipkan ilmu-ilmu yang bersifat keagamaan untuk kita baca. 

Kita bisa susun sesuai kebutuhan agar buku keagamaan yang kita baca bisa lebih mengena, seperti halnya pada saat bulan Ramadhan seperti saat ini maka jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan ibadah puasa kita sudah membaca setidaknya satu referensi tentang  tatacara berpuasa yang sesuai tuntunan syariat berikut hal ihwal yang berkaitan dengan ibadah puasa, begitupun saat ini kita akan menghadapi keharusan ibadah membayar zakat fitrah maka kita mulai mengagendakan membaca buku tentang pedoman zakat, kemudian pasca ramadhan kitapun akan di hadapkan dengan hari raya idul adha, maka kita sudah mulai menyiapkan pula buku bacaan terkait ibadah dalam berQurban dan ibadah-ibadah lainya yang berkaitan dengan datangnya waktu Idul Adha, dan begitu seterusnya. 

Lebih utama lagi bagi kita sebagai orang tua atau guru di sebuah lembaga pendidikan agar sedari dini mengenalkan keutamaan mebaca berikut memfasilitasi  agar anak-anak kita suka dengan membaca,kemudian di arahkan agar mengutamakan ilmu yang besifat keagamaan karena tentunya mereka punya waktu luang yang banyak untuk di produktifkan dengan membaca.

Dalam membaca buku-buku ke-Islaman idealnya memang dilakukan dengan sistem Talaqqi (belajar langsung dengan guru/penulis) namun jika hal tersebut tidak memungkinkan maka bagi kita yang sudah dewasa bisa mensiasatinya dengan membaca lebih dari satu referensi buku,  tujuanya sebagai pembeda antara pendapat satu dan lainya karena tentunya tidak semua buku memiliki tujuan yang baik, tidak jarang kita temui kepentingan-kepentingan lain untuk melencengkan ajaran agama itu sendiri yang dilakukan pihak tidak bertanggungjawab. Sehingga pada tingkat lanjutnya kita di tuntut untuk selektif dalam memilih buku sebelum memutuskan untuk di baca,  kita bisa lihat siapa penulisnya dan apa yang menjadi referensi/rujukan dalam penulisan buku tersebut. 

Apabila belum mampu membedakan penulis dan rujukan yang terpercaya,  maka kita bisa menanyakan kepada ulama tertentu atau orang yang faham tentang buku materi agama mana saja yang bisa di jadikan rujukan untuk di baca dan di amalkan. 

Tahapan serupa kita lakukan pula untuk anak sendiri ataupun anak didik agar memperhatikan rujukan bacaan untuk mereka, untuk usia yang masih kanak-kanak kita bisa memfasilitasi buku yang atraktif yang mudah di fahami oleh anak-anak sesuai dengan tingkat usianya, kemudian di bimbing jika mereka kurang faham. 

Sahabat yang baik sekian sharing yang bisa saya sampaikan adapun inti dari tulisan di atas adalah hendaknya setiap kita yang sudah terbangun habit dalam membaca buku, memperhatikan pengamalan dalam kategori ilmu diatas, sehingga kita bisa seimbang antara membaca buku keilmuan bersifat duniawi dengan membaca ilmu-ilmu ke-Agamaan sebagai panduan berkehidupan yang tidak hanya bermanfaat di dunia tetapi juga pegangan untuk sukses di akhitat. 

Semoga bermanfaat.

Lembang, 19/06/2016

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment