Pages

Ada Kesan di Mesjid Lautze

Mesjid Lautze-2
Siang itu Jumat 22/07/2016 saya harus bergegas menuju Mesjid Agung Dayehkolot yang berada di wilayah selatan kota bandung, keponakan yang datang dari kampung sudah menunggu disana, tujuanya adalah mendaftar kuliah di salah satu perguruan tinggi di bandung.

Waktu sudah menunjukan pukul 10:45 saya harus segera pergi mengingat hari itu adalah hari jumat, dan saya sendiri merencanakan ingin melaksanakan shalat Jumat disana agar bisa mengefektipkan waktu, setelah selesai shalat jumat langsug bertemu dengan keponakan, mencari makan siang dan langsung pergi ke kampus yang di tuju, setelah selesai saya bisa kembali ke kantor untuk melanjutkan pekerjaan.

Lalu lintas siang itu cukup padat, bahkan di beberapa titik terjadi kemacetan cukup parah, maklum kalo akhir pekan kota bandung biasanya menjadi tujuan wisata khusunya yang datang dari daerah jakarta dan sekitarnya, saya berangkat dari Cibodas Lembang pukul  pukul 10:45 dan perkiraan sampai di dayehkolot sekitar pukul 11:50 sehingga masih bisa melaksanakan shalat Jumat di Mesjid tersebut.

Nyinggung sedikit tentang daerah Lembang tempat dimana saat ini saya mengabdikan diri di salah satu lembaga pendidikan, orang-orang jakarta suka menyebutnya Negri diatas awan karena memang secara tofografi Lembang berada di dataran tinggi kota Bandung, dan kota bandung sendiri termasuk daerah dayehkolot yang hendak saya tuju  berada di daerah lembah kaki gunung patahan lembang yang membentang dari ujung barat sampai dengan timur wilayah bandung. 

Namun ternyata rencana manusia tidak kuasa, saya harus mengurungkan tekad melaksanakan shalat jumat di dayehkolot mengingat perjalanan masih baru setengah jalan dan waktu sudah menunjukan pukul 11:30, saya mengubah rencana yaitu melaksanakan shalat jumat di Mesjid Agung Jawa Barat yang beberapa waktu kebelakang menjadi cukup terkenal dan menjadi tujuan wisata warga dari dalam dan luar kota atas jasa Wali Kota Bandung Kang Ridwan Kamil yang mengubah halaman Mesjid Agung yang semula semrawut kotor dan kumuh menjadi taman rumput sintetis yang menyenangkan untuk di kunjungi.

Saya memacu kendaraan untuk bisa tepat waktu sampai di Mesjid Agung Jawa Barat , namun lagi-lagi harus mengurungkan niat karena pemberhentian di beberapa stopan  menyita waktu sehingga waktu menjelang adzan hanya tinggal 15 menit lagi, akhirnya saya memutuskan untuk mencari mesjid lain yang lebih dekat. Saat melewati tikungan Jalan Tamblong  akhirnya saya menemukan sebuah mesjid yang tepat berada di sebrang kanan jalan raya, mesjid tersebut tidak memiliki halaman khusus karena include sebagai trotoar jalan raya tamblong.

Sesaat setelah memarkiran kendaraan saya bergegas menuju tempat shalat, saat itu jama'ah sudah memenuhi bagian luar mesjid (trotoar). Ada kesan berbeda selama saya melaksanakan shalat jumat di mesjid tersebut, dimana dari mulai saat datang saya di hadapkan dengan sebuah spanduk ucapan selamat hari Raya yang dipadukan dengan tuliskan huruf China, dan terpampang sebuah plang kecil bertuliskan Mesjid Loutze-2 yang dalam bahasa Indonesia bermakan "guru", kemudian bentuk mesjid yang tidak seperti biasanya lebih mendekati bentuk rumah atau tempat makan etnis Tionghoa. 

Rasa penasaran kemudian membawa saya mencari tahu lebih lanjut tentang mesjid tersebut, sesampainya di rumah saya browsing kemudian bertemu dengan situs yang mengulas cukup lengkap berkaitan dengan Mesjid Loutze , http://bujangmasjid.blogspot.co.id/2010/10/masjid-lautze-2-bandung.html . Di situs tersebut di jelaskan bahwa Pendirian masjid Lautze 2 Bandung bermula pada bulan Ramadhan Desember 1996 saat digelar pertemuan bulanan YHKO (Yayasan Haji Karim Oei ) di Jakarta, dimana YKHO ini sendiri adalah sebuah Yayasan yang berfungsi sebagai wadah pembinaan para mualaf, yang di antaranya adalah muslim keturunan Tionghoa, kemudian perwakilan YHKO  dari luar Jakarta datang, termasuk dari Bandung, Dalam pertemuan tersebut disampaikan bahwa di Bandung belum ada sekretariat Cabang YHKO. Maka,  dibentuklah YHKO cabang Bandung di bulan Januari  1997, Untuk kebutuhan pembinaan umat Islam, khususnya etnis Tionghoa, sekaligus sekretariat cabang YHKO.

Di awal pendirian YHKO Bandung diputuskan untuk mengontrak sebuah bangunan bekas toko buku di kawasan Tamblong, dengan dana awal untuk sewa tempat menggunakan dana yayasan, karena ketika itu masih banyak ruang kosong di kantor baru tersebut, pengurus yayasan memutuskan untuk menggunakan ruang tersebut sebagai masjid. Sejak saat itu sekretariat YHKO Bandung juga di fungsikan sebagai Masjid dengan nama masjid Lautze 2, untuk membedakannya dengan Masjid Lautze di Jakarta" (a) 

Ada kebahagiaan setelah saya mengetahui sejarah dari mesjid tersebut, dan kecintaan yang amat besar saya haturkan kepada saudara-saudara seiman yang berkecimpung di Yayasan tersebut termasuk yang menginfakan dirinya mengelola mesjid lautze-2. Semoga Allah memberikan limpahan pahala tidak terhingga kepada antum semua.  Inilah Islam yang persaudaraanya tidak terbatas etnis dan budaya, inilah Islam yang kasih sayangnya tidak terbatas oleh teritorial suatu bangsa. Semoga di lain kesempatan saya bisa berkunjung kembali ke mesjid tersebut.

Lembang, Kamis 28/07/2016

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment