Pages

Keren Itu Hanya Soal Waktu

Jalan Kecamatan Talegong
Masa libur pasca Ramadhan memang telah usai, setiap orang kembali  melanjutkan kesibukan semula yang telah di tinggalkan selama liburan, ada yang kembali bekerja di pabrik, di perkantoran, mengajar,dll. 

Pastinya ada hal yang menarik untuk di gali hikmahnya selama masa liburan kemarin,  kampung halaman yang kita kunjungi menyimpan kisah dan nuansa berbeda, terutama saat para perantau datang berduyun-duyun untuk pulang kampung, suasana yang semula sunyi sepi menjadi riak riuh gegap gempita dengan datangnya para perantau dari kota.

Tahun ini kami sekeluarga pulang ke kampung halaman lebih akhir dari biasanya, karena masih harus menyelesaikan program itikaf Ramadhan yang sudah di rencanakan meskipun tidak full sampai berakhirnya ramadhan karena keluarga di kampung khususnya ibu dan bapak yang sudah rewel minta segera pulang selain itu pula ada permintaan warga di kampung untuk mengisi khutbah Idul Fitri.

Setelah sampai di kampung halaman rata-rata para pemudik dari kota sudah pada datang, suasana kampung sudah lebih ramai dari biasanya sepanjang perjalanan memasuki jalan perkampungan para anak muda yang bekerja di kota banyak berjejer mejeng di pinggir jalan, dengan motor baru atau lama yang mereka miliki,menikmati kebersamaan dan sowan-sowan dengan para tetangga dan kawan lama, saya tidak terlalu tahu sejak kapan ritual tersebut berlangsung karena saya sendiri semenjak hijrah ke kota, di masa pulang kampung tidak pernah melakukan hal serupa.

Sesampainya di rumah kediaman orang tua, suasana para tetangga tidak jauh berbeda tiap-tiap rumah ramai dengan riak riuh canda tawa yang menandakan kebahagiaan tak terhingga dengan datangnya sanak saudara, ada yang sekedar bercengkrama saja, adapula sembari melakukan kesibukan yang sudah menjadi rutinitas wajib yaitu membuat kue lebaran, rata-rata di komandoi oleh para tetua yang datang dari kota sebagai ajang menunjukan kepiawaian dari keahlian membuat kue  yang sudah di miliki selama di negri rantau.

Yang menarik adalah saat masuk waktu lebaran tiba, perayaan shalat Id menjadi hingar bingar dengan perwajahan yang serba baru berupa pakaian dan asesoris yang di kenakan dari mulai atasan sampai bawahan sepertinya hampir tidak ada yang menggunakan pakaian lama. Terlebih para "rantower" yang datang dari kota, bisa di kata paling beda dari yang lainya yang menunjukan identitas orang yang sudah mencicipi rasa kota dengan segala kehidupanya.

Masa lebaran memang identiknya dengan sesuatu yang serba baru, tidak hanya pakaian yang  baru tapi yang lainyapun seolah menjadi sebuah keharusan untuk di perbaharui, motor baru atau mobil baru biasanya memiliki porsi yang tidak kalah penting khususnya untuk warga kota yang hendak mudik ke kampung halaman karena tentunya menjadi kebanggaan tersendiri sekaligus menjadi ukuran kesuksesan selama bekerja di kota jika pulang kampung menggunakan kendaraan yang bagus melebihi ekspektasi yang di miliki orang-orang kampung. 

Akhir-akhir ini orang kampungpun saat jelang ramadhan dan lebaran tiba  sudah tidak mau kalah saing dengan orang-orang yang akan datang dari kota, untuk menyiapkan kedatangan tamu yang akan berkunjung kerumahnya berlomba-lomba untuk membeli barang-barang tertentu sebagai isian rumah yang boleh di kata belum terlalu berguna, seperti halnya membeli kulkas, kipas angin,dan lainya yang serupa, meskipun harus membeli dengan jalan nyicil/kredit. Saya sendiri kadang tidak habis pikir kenapa barang tersebut  di beli, karena jika dilihat dari unsur manfaat masih jauh dari butuh, bagaimanapun juga di kampung tentu berbeda dengan kota, sayuran tidak harus di simpan di kulkas agar awet karena setiap saat dia bisa metik sendiri di halaman rumahnya, memang perlu untuk mengawetkan sejenis daging atau ikan namun terlalu percuma juga karena rata-rata beli daging dan ikan dalam satu tahun hanya hitungan jari, terlebih kipas angin, istilahnya apanya yang mau di kipasin wong siang haripun terkadang mengigil karena suhu pegunungan yang dingin. (hehe)

Intinya saat lebaran tiba kebanyakann orang berbangga dengan sesuatu yang di milikinya, pakaian baru, motor baru, mobil baru, perabotan baru, dll, sehingga tidak jarang menjadi ajang pamer menunjukan bahwa saya hebat ,saya sukses, saya berhasil, saya mampu membeli sedang kamu tidak, punya saya paling bagus, ternyata kamu tidak ada apap-apanya ketimbang saya, dan ungkapan lainya.

Sepertinya tidak salah kita memiliki barang serba baru, baik sesuatu yang berupa kebutuhan primer sepertihalnya pakaian atau kebutuhan sekunder sepertihalnya kendaraan, namun yang jadi permasalahan adalah unsur pamernya, serba ingin di tampilkan untuk di ketahui dan jadi ajang perbincangan antara si fulan dan si fulan lainya, kejadian ini sudah lumrah terjadi meskipun tidak semua, sepertihalnya bab pakaian, hal tersebut sangat luar biasa menjadi topik istimewa dimana antara satu dan lainya saling membandingkan pakaian yang di kenakan dan menjadi bahan pembicaraan bahkan menjadi bahan olok-olokan (gosip), begitupun bab kendaraan menjadi pembahasan serupa, misalkan ada salah satu warga kampung pulangnya membawa mobil baru, ramenya luar biasa sekampung tahu semua dan menjadi bahan pembicaraan khusus,ada yang bersimpati dengan ungkap syukur karena ada warga kampung yang sudah sukses di kota, namun tak jarang yang antipati entah itu karena iri atau hal lainya yang pasti sering terdengar ada ungkapan "paling mobil barunya hasil kredit, atau mobil rentalan yang di bawa pulang, dsb." ( mestinya tidak berujar se-ekstrem itu juga, karena kelihatan bentuk irinya,hehe..) Meskipun memang terkadang ada penyebabnya pula kenapa para warga menjadi antipati karena sang pemudik yang membawa mobil tidak jarang tiba-tiba gelagatnya menjadi aneh, perangainya menjadi sombong dan gaya bicaranya menjadi tinggi, entah itu karena lupa atau memang di sengaja sebagai bentuk legalitas akan kesuksesanya, yang pasti hal itu lumrah terjadi.

Apakah perlu kita dengan barang-barang yang serba baru untuk di kenakan saat lebaran/pulang kampung, apakah perlu kita merasa berbangga dengan pakaian, kendaraan atau hal lainya yang serba baru, juga apakah perlu kita merasa iri karena yang lain memiliki seuatu yang lebih sedang kita tidak...??? 

Sesuatu yang bersifat materil maka tergantung dengan kebutuhan jika dirasa perlu untuk membeli pakaian baru karena pakaian lama sudah usang, maka tidak masalah untuk membeli, jika di rasa perlu untuk membeli mobil karena jumlah anak bertambah yang tidak mungkin muat di bawa oleh kendaraan roda dua maka tidak mengapa kita membeli. Namun tentu kita tidak perlu jika kita harus sampai berbangga diri saat memiliki pakaian baru yang jauh lebih bagus dari tetangga/saudara kita yang lainya, tidak perlu harus berbangga diri bahkan sampai harus menyombongkan diri saat kita memiliki kendaraan baru yang bagus, tidak perlu pula tiba-tiba merasa hebat karena sudah mampu membeli isian rumah yang tergolong mewah, bukankah rasa ujub dan riya  tidak akan mendatangkan manfaat apa-apa bagi pelakunya, selain kebahagiaan semu yang mendatangkan dosa dan multilevel keburukan dari orang lain. Tidak ada dalam ceritanya saat seseorang memamerkan kelebihan kepada orang lain, serba di ceritakan, serba di tampilkan lantas menjadi tambah simpati ikut berbahagia dari apa yang kita miliki, yang ada adalah makin antipati karena bisa jadi ada orang lain yang tersinggung dengan sikap kita, tersakiti,terhinakan,dll.

Maka berjalan lah apa adanya , kita boleh punya segalanya namun tidak perlu merasa hebat, kagum dan berbangga diri, bukankah Keren itu, bagus itu, kaya itu, hebat itu, hanya soal waktu, Sekarang hebat maka belum tentu esok hari masih hebat karena selain hanya soal waktu tentunya masih banyak orang lain yang jauh lebih hebat dari kita, jika mereka dari awal melihat orang yang jauh lebih hebat dari kita tentu kita bukanlah apa-apanya, begitupun kaya, maka tidak ada yang menjamin esok hari masih kaya, bisa jadi ada musibah datang sehingga menghilangkan kekayaan dengan seketika, apalagi hanya soal pakaian dan kendaraan bukankah selang beberapa waktu yang semula kinclong dan keren berubah menjadi usang dan rusak. 

Bukankah pula bahwa semua yang kita miliki adalah milik Allah yang kelak akan di mintai pertanggungjawaban, karena hakikatnya setiap yang kita miliki baik berupa moril ataupun materil hanya di pergunakan untuk beribadah kepada Allah. Kita cukup dalam bab Harta maka keharusanya di derma untuk sesama juga untuk berjuang di jalan Allah, tak tahu diri namanya jika makin kaya malah makin kikir dan sombong, kita mumpuni dalam bab ilmu maka tak ada alasan untuk tidak di gunakan dalam mengingat setiap keagungan-keagungan ALLAH dan tunduk patuh terhadap perintahnya, kemudian memutuskan untuk menjadi pionir perjuangan Islam karena setiap diri kita adalah Da'i yang di bebankan tabligh yaitu menyampaikan risalah kenabian.

Acep Firmansyah - Lembang, 24/07/2016 

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment