Pages

Antara adab dan keberkahan (seri adab terhadap guru - part 1)

contoh seorang murid yang tidak memiliki adab terhadap guru

Apa yang kita pikirkan saat melihat gambar diatas..???, Sesuatu yang baik, buruk, atau biasa saja ...? Saya yakin semua orang yang memiliki kebaikan dalam hatinya pasti sepakat bahwa itu adalah perbuatan buruk yang sangat tidak terpuji.

Gambar diatas adalah satu dari sekian banyak potret yang bisa kita temukan saat ini, jika kita searching di google maka akan sangat banyak potret-potret lainya yang jauh tidak terpuji, bahkan di youtube saya menemukan sebuah adegan video dimana para siswa mengeroyok gurunya hingga babak belur.. sungguh sangat memilukan.

Inilah fakta dari degradasi moral para pelajar kita saat ini, tidak semua, namun banyak yang seperti itu, sesuatu yang jungkir balik karena para pelakunya sangat bangga saat melakukan hal tersebut, seolah sebagai identitas yang menunjukan kekuatan diri karena telah mampu merendahkan gurunya, padahal tanpa sadar  bahwa ia telah memasukan dirinya kepada lorong kehancuran

Kita tidak siap saat peradaban barat begitu hegemoni memasuki jantung-jantung negara yang mayoritas perpenduduk Islam dan menghancurkan generasi pelajarnya, sehingga kita porak poranda di buatnya, gencarnya tontonan-tontonan ala barat kini menjadi kesukaan para pelajar kita, tengok sinteron-sinteron televisi*, film-film bioskop*, semuanya racun yang berbau harum sehingga menggoda mereka untuk mengkonsumsinya pada akhirnya dari tontonan menjadi tuntunan.

Hilangnya Keberkahan
Saat ini kita menemukan begitu banyak orang-orang yang cerdas, pintar dan berilmu tinggi namun kecerdasanya, kepintaranya berikut dengan ilmunya tidak mampu memberikan kemanfaatan, jangankan untuk orang lain untuk dirinyapun tidak, bahkan ilmunya telah menghancurkan dirinya,  ia pintar namun berlaku curang membodohi dengan mengambil hak orang lain di saat ia di uji untuk menjadi petinggi negri , ia cerdas dan berilmu namun hanya membawa kepada kesombongan diri dan merendahkan orang lain, seolah kesombonganya mampu menguatkan kedudukanya namun sesungguhnya hanya akan menghancurkanya secara perlahan seperti api yang melalap habis kayu bakar, banyak pula kisah seseorang yang sangat cerdas dan berpengaruh di saat masa sekolah atau kuliah namun nahas setelah lulus orang tersebut tidaklah jadi apa-apa, bahkan kesusahan hidup meliputi dirinya, Pertanyaanya kenapa..???  Jawabanya, bisa jadi di sebabkan oleh hilangnya keberkahan ilmu dengan sebab tidak memilki adab terhadap orang yang menjadi jalan ilmu kepadanya.

Imam Ibnu Qayyim Al-Jauziyah telah berkata  "Sesungguhnya adab yang mulia adalah salah satu faktor penentu kebahagiaan dan keberhasilan seseorang. Begitu juga sebaliknya, kurang adab atau tidak beradab adalah alamat (tanda) jelek dan jurang kehancurannya. Tidaklah kebaikan dunia dan akhirat kecuali dapat diraih dengan adab, dan tidaklah tercegah kebaikan dunia dan akhirat melainkan karena kurangnya adab. (lihat Madarijus Salikin, Jilid 2/39)

Adanya Keberkahan
Allah Ta’ala berfirman, “… sebab itu sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hambaKu, (yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan merekalah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Az-Zumar: 17-18)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Semoga Allah memberikan cahaya kepada wajah orang yang mendengar perkataanku, kemudian ia memahaminya, menghafalkannya, dan menyampaikannya. Banyak orang yang membawa fiqih kepada orang yang lebih faham daripadanya…” (HR. At-Tirmidzi).

Adab terhadap guru dan siapapun itu yang menjadi wasilah turunya ilmu kepada kita akan mendatangkan berbagai keberkahan, Abu Laits As-Samarqandi berkata dalam kitabnya "Siapa yang duduk di sisi orang alim dan tidak mampu menghafal ilmu sedikitpun, maka ia akan tetap mendapat tujuh keramat (keutamaan), yaitu:  Mendapat keutamaan orang yang belajar, terpelihara dari dosa, turun rahmat kepadanya ketika ia keluar dari rumahnya, apabila rahmat turun kepada kelompok, maka mendapat suatu bagian rahmat, akan dicatat sebagai ketaatan, selama ia mendengarkannya, apabila hatinya sempit karena tidak paham, maka kebingungannya menjadi perantara ke hadirat Allah, Dia akan meliahat keagungan orang alim,  Dia akan meliahat kehinaan orang fasik, sehingga tabiatnya cerderung kepada ilmu, dan terakhir hatinya atinya akan menolak perbuatan fasik. (Tanbihul Ghafilin : 1)

Adab Sebelum Ilmu
Diriwayatkan oleh Al–Imam Baihaqi, Umar bin Khattab mengatakan,
“ Tawadhulah kalian terhadap orang yang mengajari kalian”.

Sahabat Abu Sa’id Al-Khudri Radhiallahu ‘anhu berkata,
Saat kami sedang duduk-duduk di masjid, maka keluarlah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian duduk di hadapan kami. Maka seakan-akan di atas kepala kami terdapat burung. Tak satu pun dari kami yang berbicara” (HR. Bukhari).

Imam Ibnul Mubaarak -rahimahullah- mengisyaratkan urgensi adab dalam ucapannya yang masyhur,
Aku belajar adab selama tiga puluh tahun dan belajar ilmu selama dua puluh tahun. Dahulu, orang-orang belajar adab dulu sebelum belajar ilmu.” [Ghayatun Nihayah fi Thabaqatil Qurra’ (1/ 198)]

Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu dalam sebuah riwayat disebutkan suatu ketika beliau pernah menuntun tali kendaraan Zaid bin Tsabit al-Anshari, dan berkata “Seperti inilah kami diperintahkan untuk memperlakukan para ulama kami”, padahal Ibnu Abbas sendiri adalah seorang sahabat mulia, sang mufassir Al-Quran.

Begitupun Imam Syafi'i  sang mujtahid mutlak yang ilmunya bintang gemintang, memperlakukan dirinya terhadap seorang guru, ia berkata :
“Dulu aku membolak balikkan kertas  di depan  Malik dengan sangat lembut karena segan padanya dan supaya dia tak mendengarnya".

Begitulah adab para Sahabat dan Ulama salaf mengajarkan kita tentang urgensi adab, yang wajib di amalkan oleh seorang murid terhadap para gurunya, sehingga keberkahan senantiasa mengalir dari setiap tetes ilmu yang tercurah kepadanya.

Adab terhadap guru
Sheikh Az-Zarnuji Dalam kitabnya Ta’lim Muta’alim menyampaikan adab murid terhadap guru diantaranya :
  1. Seorang murid tidak berjalan di depan gurunya
  2. Tidak duduk di tempat gurunya
  3. Tidak memulai bicara padanya kecuali dengan izin guru
  4. Tidak berbicara di hadapan guru
  5. Tidak bertanya sesuatu bila guru sedang capek atau bosan
  6. Harus menjaga waktu, jangan mengetuk pintunya, tapi menunggu sampai guru keluar
  7. Seorang murid harus kerelaan hati guru, harus menjauhi hal-hal yang menyebabkan guru marah, mematuhi perintahnya asal tidak bertentanangan dengan agama
  8. Termasuk menghormati guru adalah juga dengan menghormati putra-putra guru, dan sanak kerabat guru
  9. Jangan menyakiti hati seorang guru karena ilmu yang dipelajarinya tidak akan berkah.
Semoga Allah mengaruniakan kepada kita Ahlak yang baik, pribadi yang lembut penuh kasih sayang,  jauh dari sikap sombong, ujub dan takabur, mampu menghormati dan memuliakan guru-guru yang telah menjadi wasilah turunya ilmunya kepada kita. Aamiin

Acep Firmansyah ; Lembang,20/10/2016








ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment