Pages

Notes From Garut (Edisi Relaawan Bagian ke-2)

source image : galamedianews
Mengambil hikmah
Saya bersyukur dengan kejadian tersebut tidak ada sedikitpun terbersit dalam hati benci, marah,ngedumel,dsb. Saya merenung, ini bukanlah sebuah kebetulan pasti ada hikmah besar di balik semua itu, kenapa batu tersebut bisa terlempar ke kepala saya padahal di tempat itu begitu luas, bahkan di samping kanan kiripun banyak tim relawan lain yang saling berdampingan.

Positif thinking bisa jadi bahkan pasti saya telah banyak melakukan perbuatan dosa dengan kepala ini, banyak prasangka buruk yang tersimpan di pikiran, masih ada rasa sombong, iri hati, dan penyakit-penyakit hati lainya yang berjubel di kepala, bahkan shalat jarang khusyu, dan dari setiap aktifitas lebih banyak urusan duniawi yang di pikirkan ketimbang urusan dengan ALLAH,mengingat ALLAH tidak sesering mengingat urusan keduniaan padahal apapun yang ada dilangit dan di bumi ini adalah kepunyaan ALLAH semata... Astagfirullah..

Bersyukur Allah hanya memberikan peringatan kecil padahal dosa yang diperbuat sangat besar, terbayang jika saja Allah menghancurkan kepala ini karena saking banyaknya dosa yang telah di perbuat tentu tidak ada kesempatan untuk meminta ampunan, ternyata Allah sangat sayang memberikan kesempatan untuk bisa merenungi setiap dosa-dosa yang telah di perbuat. Bersyukur mudah-mudahan kejadian tersebut menjadi kafarah dosa dan menjadi pengingat untuk giat bertobat karena balasan di akhirat jauh lebih dahsyat.

Mengerikan
30 menit lagi menjelang waktu ashar, sakit di kepala masih terasa berat, namun rasa penasaran ingin mengetahui keadaan sekitar dimana berdasarkan penuturan para warga bahwa wilayah cimacan adalah wilayah yang terkena dampak paling parah dan korban meninggal paling banyak, sehingga saya memutuskan untuk berkeliling area tersebut, di mulai dari RW 03 wilayah sekitar SMP-SMA PGRI dimana sekolah tersebutpun seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya mengalami dampak cukup parah padahal sangat jauh dari sungai. Persis di belakang sekolah PGRI ada satu rumah panggung berdindingkan bilik bambu yang telah rata dengan tanah. Kemudian saya berjalan menyusuri gang-gang menuju RW 04 mendapati rumah-rumah yang penuh dengan lumpur, terlihat bekas genangan air setinggi atap, sampah plastik, kain-kain yang terbawa aliran air menyangkut di beberapa ujung atap rumah. Saya berjalan lagi menuju wilayah RW 08 dan 09 yang mengalami dampak paling parah, tinggal rumah dengan konstruksi yang benar-benar kuat saja yang masih tetap berdiri selebihnya bersisakan rumah-rumah tanpa dinding karena roboh diterjang derasnya air bercampur lumpur, bahkan banyak yang telah rata dengan tanah, belasan rumah panggung lebih na’as lagi hanyut terbawa aliran sungai berikut dengan penghuninya, saya membayangkan kegetiran yang terjadi saat itu, seorang bapak menuturkan air datang begitu cepat ia dan keluarga terbangun dari tidur dan bergegas naik ke lantai 2 rumah, saat itu air sudah sangat besar datang seperti ombak yang menggulung, terdengar suara dentuman disana sini disusul suara menggelegar yang berasal dari tembok-tembok rumah yang jebol, suara jeritan minta tolong dimana-mana, terlihat seorang ibu bersama bayinya tergulung ganasnya air , tak ada satupun yang bisa dilakukan untuk menolong hingga suara ibu tersebut perlahan hilang terbawa dan tenggelam bersama amukan air, terlihat seorang bapak dan beberapa orang lainya berjibaku melawan derasnya air dan berhasil naik keatap rumah, namun na’as sapuan air yang lebih besar menghanyutkan mereka bersama rumah yang dinaikinya.

Ah.. saya tidak kuat menahan tangis dari setiap kata yang meluncur dari mulut bapak tersebut, saya benar-benar tidak kuat.. akhirnya memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan dan melanjutkan perjalanan ke wilayah area berikutnya, berjalan menyusuri pinggiran sungai yang kini seolah seperti lapangan besar padahal sebelumnya terdapat rumah-rumah yang kemudian tersapu bersih hanyut terbawa air, di ujung perjalanan saya melihat komplek bangunan yang bersebelahan langsung dengan sungai sebuah pabrik yang cukup besar dan luas , satu bangunan yang persis berada di tepi sungai bersisakan atap dan tiang besinya saja padahal secara kontruksi pabrik biasanya memiliki standar kualitas bangunan yang tinggi karena berkaitan dengan pengamanan aset-aset yang ada di dalamnya, namun dahsyatnya luapan air meluluhlantahkan sebagian besar pabrik tersebut, PT MDL 525 namanya dengan produk unggulan berupa susu kedelai, sayapun baru tahu kalo PT MDL 525 itu pabriknya terletak di Garut, nama produk yang tidak  asing di telinga karena beberapa tahun kebelakang iklanya sempat bertengger di televisi nasional. Menurut berita dari beberapa media online pabrik tersebut kini lumpuh total, sayapun membayangkan bagaimana kini nasibnya para karyawan yang bekerja disana, bagaimana kehidupan kedepanya, bahkan saat kejadian mereka masih belum memasuki masa gajihan, untuk pekerja yang bukan asli warga sana tentu berat karena selain tidak punya uang dari gaji bulanan merekapun kecil kemungkinan untuk mendapatkan bantuan uang tunai sebagai bagian dari para korban banjir bandang.

Adzan sayup-sayup mulai terdengar sayapun kembali ke posko SMA PGRI, untuk persiapan pulang ke POSKO utama, aktifitas berkeliling area bencana seolah melupakan sakit di kepala saya, yang tidak terasa saat itu bagian kepala saya sudah menggemuk (menjadi gemuk) sebelah dan mulai lebam diarea mata dan pelipis, seolah menjadi pelipur kesedihan pula saat berkaca ternyata kepala saya berubah bentuk menjadi benjol yang mengundang tawa saat melihatnya, bisa jadi orang-orang yang tadi saya ajak bicarapun merasa aneh namun sungkan untuk mengungkapkan bahwa ia sedang mengobrol dengan orang yang berkepala benjol. Hehe.

Akhirnya

Mobil yang saya tumpangi perlahan pergi meninggalkan lokasi bencana, kini saya dan tim pulang menuju Posko Utama yang berada di SD IT Bina Insan, selama perjalanan serpihan bayang-bayang selama berkeliling di lokasi masih hilir mudik melintasi cakrawala alam sadar yang kemudian membawa kegetiran, terbayang pula betapa dahsyatnya kekuasaan Allah dengan mudahnya dalam  sekejap mata menghancurkan apa-apa yang sering di banggakan manusia berupa harta benda, yang denganya orang berlaku sombong merasa paling hebat dan paling kaya, bahkan sampai melupakan siapa yang telah memberikan kemudahan dalam mencari rezeki dialah ALLAH SWT yang menggenggam dan mencukupkan rezeki untuk setiap hambanya. 

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment