Pages

Notes From Garut (Edisi Relawan Bagian 1)

source image : okezone
Cukup viral di beritakan di media, baik elektronik maupun media sosial  prihal bencana alam garut berupa banjir bandang yang menerjang sepanjang sungai cimanuk . Tepatnya tanggal 21 september 2016 dengan daerah terdampak paling parah adalah Ds. Cimacan dan Lapangan Paris wilayah sekitar Rumah sakit Doktor Selamet. Dengan jumlah korban jiwa sebanyak 34 orang meninggal dan 19 orang masih beum di temukan.

Kejadian tersebut mengundang perhatian  dan keprihatinan dari berbagai lapisan masyarakat tidak hanya di wilayah garut tetapi juga dari berbagai daerah lainya. Hastag #PrayForGarut sempat menjadi trending topic membuktikan akan kepedulian masyarakat Indonesia terhadap bencana alam Garut. Kemudian di susul dengan berbagai bantuan dan relawan yang datang  bejibun ke lokasi terdampak.

Ikut Ambil Bagian
Tidak kalah dengan yang lain untuk bisa mengambil peluang amal. Sekolah dimana saya mengajar mengirimkan tim relawan sebanyak  5 gelombang terdiri dari para siswa dan guru, setiap gelombang dikirim rata-rata berjumlah 25 orang dengan masa tugas selama 3 hari. Saya sendiri mendapatkan amanah di gelombang ke-4 mulai tugas tanggal 3-5 oktober 2016 dengan jumlah anggota  21 orang siswa  dan 2 pembimbing termasuk saya. 

Tidak hanya sebagai program amal tetapi misi utama lainya adalah memberikan pendidikan kepada para siswa untuk memahami kondisi dan situasi yang sebenarnya dengan  terjun langsung kelapangan sehingga mereka bisa mengambil banyak pelajaran. Baik aspek sosial berupa terbangunya kepedulian, kesadaran , dan rasa untuk menyayangi orang yang sedang mendapatkan kesusahan, ataupun aspek rohani sehingga mereka bisa bersyukur kepada Allah SWT atas nikmat keamanan, kenyamanan, rezeki yang berkecukupan, dsb. Berikut juga mengambil ibrah agar mereka bisa sungguh-sungguh taat kepadaa Allah , karena setiap musibah itu bisa jadi disebabkan karena dosa sehingga Allah timpakan berupa bencana agar manusia kembali kepadaNYA dan bertaubat dari setiap dosa yang telah dilakukanya.

Hari Pertama
Mobil kami meluncur dari bandung tepatnya dari Ds. Cibodas  Maribaya Sekolah SMP-SMA Nurul Fikri boarding School Lembang Bandung Barat sekitar pukul 07:15 alhamdulillah sampai di lokasi sekitar pukul 10:30. Kebetulan kami memiliki 2 posko, pertama adalah posko untuk tempat kami menginap bertempat di SDIT Bina Insan berada di wilayah Banyuresmi, sekitar 20 menit perjalanan menggunakan kendaraan ke wilayah terdampak dan kedua adalah posko untuk menyimpan perlengkapan kerja bertempat di SMA PGRI Ds Cimacan, dimana sekolah tersebutpun mengalami dampak bencana yang sangat parah, sebagian bangunan roboh, dan semua berkas-berkas penting  sekolah tidak ada yang bisa di selamatkan termasuk perpustakaan dan alat-alat laboratorium semuanya rusak bercampur dengan lumpur . Di sekolah SMA PGRI sendiri genangan air saat kejadian kurang lebih sampai dengan 2 meter dan menyisakan tumpukan lumpur setinggi betis bahkan di area lapangan hampir satu meter. Saat itu saya dan tim menuju posko yang kedua yang berlokasi di sekolah tersebut agar bisa mempelajari peta kondisi sebelum terjun kelapangan di esok harinya.

Sekolah tersebut menjadi salah satu objek kerja tim relawan untuk dibersihkan, dari tim gelombang pertama titik fokus pekerjaan memang mulai  disana sebelum kemudian bergerak ke wilayah lainya.

Saat saya dan tim siang itu datang ke lokasi tidak terlalu banyak aktifitas yang kami lakukan hanya membantu yang bersifat ringan saja karena terbatasnya peralatan dan perlengkapan yang kami gunakan selain itu peralihan tugas antara tim gelombang sebelumnya dengan tim kami baru dilakukan di sore hari dan baru aktif bertugas di esok harinya.

Ketiban batu
Saya berjalan melihat-lihat area sekolah yang telah berubah tidak ubahnya seperti TPL (tempat pembuangan lumpur), tapi bukan lumpur lapindo. hehe.. Tim relawan kami dari gelombang sebelumnya terlihat sibuk mengangkat sekop memindahkan butiran-butiran pasir untuk menutupi genangan lumpur, sayapun tergerak untuk ikut andil meskipun dengan perlengkapan seadanya, dari pada diam mending bersegera jemput pahala. Sayapun mulai sibuk memindahkan kerikil-kerikil batu bercampur pasir menggunakan tangan, sesekali menggunakan sekop yang kebetulan lagi tidak digunakan karena pemiliknya rehat sesaat, entah kenapa tiba-tiba... deng.... ada sesuatu yang membentur kepala, dan sayapun tersungkur ke tanah, seperti ayam yang lagi mematuk beras..hehe. Beberapa saat kemudian saya merasakan seluruh anggota badan lemas tidak bisa di gerakan dan seolah lupa ingatan tapi tetap sadar. Mungkin sekitar 2 menit saya tergeletak di tanah, terdengar suara anak-anak yang membangunkan kemudian mengambilkan air minum dan memanggil tim kesehatan kelompok relawan lain yang saat itu Alhamdulillah sedang berada di sekitar area SMA PGRI.

Saya di bopong untuk di pindahkan ke sebuah kursi yang tidak jauh dari sana kemudian di obati oleh tim kesehatan, kepala saya masih bindeng dan terasa ada darah yang mengalir dari pelipis bagian bawah, namun sudah mulai bisa berbicara sehingga sempat ngobrol sesaat dengan tim kesehatan, orang tersebut menyampaikan InsyaAllah ini tidak apa-apa lukanya kecil, namun efek benturanya yang mungkin akan bengkak dan membiru, kemudian beliau meneteskan obat merah di area yang terluka dan menyampikan permohonan maaf karena sedang tidak membawa perlengkapan lengkap sehingga tidak di perban, kemudian menyarankan untuk segera istirahat dan jangan banyak bergerak.

Setelah sakit dan pusingnya berkurang kemudian saya pindah ke ruangan Posko tim relawan, kebetulan pihak sekolah PGRI membolehkan kami menempati salah satu ruangan kelasnya untuk digunakan sebagai posko kedua, di tempat tersebut kami menyimpan peralatan-peralatan untuk   kebutuhan selama bekerja sekaligus tempat untuk istirahat dan makan siang. Dengan sempoyongan saya memaksakan diri berjalan menuju ruangan posko Alhamdulillah ditempat tersebut ada karpet yang bisa saya gunakan untuk rebahan, saya mencoba memejamkan mata namun tidak bisa kepala masih terasa berat dan sakit di bagian pelipis. Sesaat kemudian datang seorang teman membawakan kapas dan perban kemudian membungkuskan di area kepala yang terluka.

Tidak lama setelah itu datang seorang anak menghampiri yang tiada lain adalah murid saya sendiri sembari menangis memohon maaf bahwa dia yang telah melemparkan batu hingga mengenai kepala saya, dia hendak melemparkan kearah depan namun terpeleset yang akhirnya batu tersebut malah mendarat di kepala saya. “Ustadz tidak marah sama antum nak, tidak apa-apa, ustadz maafkan antum, semua atas izin Allah, namun kedepanya harus lebih hati-hati saja, ” jawab saya kepada anak tersebut.


ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment