Pages

Notes From Garut (Edisi Relawan Bagian.4)

Bantuan yang tidak tepat sasaran
Saat waktu rehat makan siang seorang bapak berseloroh menghampiri kemudian bercerita panjang lebar prihal bantuan yang tidak tepat sasaran, banyak oknum-oknum tertentu yang memanfaatkan peluang mengambil kesempatan untuk kepentingan pribadi, setiap bantuan datang tidak sepenuhnya benar-benar sampai ke tangan orang yang terkena bencana, beliau mengomentari pula, pada saat pak Presiden datang saat itu luar biasa bantuan datang begitu banyak namun tidak semuanya sampai ke tangan yang tepat, saat di bagi-bagi sembako dan uang malah orang terminal, dan orang pasar yang dapat padahal mereka bukan korban sama sekali, terlihat asal-asalan, asal ngasih saja tanpa survei terlebih dahulu ke lapangan, dan memetakan siapa-siapa saja yang berhak menerima bantuan, beliau menambahkan seperti sebuah kamuflase untuk kepentingan pencitraan di sorot kamera sana-sini namun yang di berikan bantuan tidak sepenuhnya menjadi korban, (ini bukan kata saya ya.. hehe, warga sana yang ngomong seperti itu, jadi tolong jangan di anggap sara. #wew ).

Beliau menyebutkan pula beberapa organisasi masyarakat dan LSM yang tidak transfaran menyampaikan bantuan kepada korban, padahal dana dari para relawan yang di titipkan melalui organisasi tersebut sangat besar, kebanyakan masuk ke kantong-kantong pribadi dan kelompoknya, naudzubillah. Saya tidak akan menyebutkan nama-nama organisasi yang disebutkan bapak tersebut yang diduga berlaku curang menggelapkan dana bantuan, jika benar semoga Allah memberikan hidayah untuk bertaubat. Beliaupun menyampaikan jika hendak memberikan bantuan maka jauh lebih baik langsung kepada ketua RT atau RW setempat bisa juga datang langsung ke pengungsian dan di berikan disana.

Saya tidak habis pikir terhadap orang yang berlaku curang terlebih terhadap dana bantuan yang di selewengkan, orang yang telah menyumbang dengan ikhlas mengeluarkan sebagian rezekinya dengan harapan bisa meringankan beban saudaranya yang sedang mendapatkan cobaan, namun nyatanya dilapangan di manfaatkan oleh oknum untuk kepentingan pribadi, bergiding bulu kunduk saat mendengarkan penjelasan bapak tersebut , teringat dengan  sebuah hadist

(
كُلُّ لَحْمٍ نَبَتَ مِنْ سُحْتٍ فَالنَّارُ أَوْلَى بِهِ). (رواه أحمد والترمذي والدارمي).
Setiap daging yang tumbuh dari yang haram maka neraka lebih utama dengannya.  (HR Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ad-Darimi).
Sebuah hadist yang membuat takut bagi siapapun yang mendengarnya selama dihatinya masih ada Iman, dimana tidak ada yang lebih berhak dari setiap daging yang tumbuh atas harta haram melainkan api neraka yang akan membinasakanya.. Astagifrullah. Semoga kitapun mendapatkan ampunan Allah jika tanpa sengaja dan terlupa ada harta haram yang kita makan, ada hak orang lain yang kita makan, ada harta syubhat yang kita makan.
Apakah mungkin oknum tersebut belum faham tentang halam haram, ataukah sengaja tidak memperdulikan asalkan dapat uang,dapat bagian, tidak masalah meskipun haram, bisa pula setan bermain cantik melihat sisi kelemahan manusia yang secara fitrah cinta terhadap dunia sehingga berhasil membutakan matanya, menggelapkan hatinya dan menyesatkan langkahnya untuk berlaku curang ingkar dari aturan.
Lebih miris lagi jika uang haram tersebut digunakan untuk menghidupi anak istrinya, anaknya tumbuh dengan harta haram yang akan menghilangkan keberkahan masa depannya, harta haram menjauhkan keluarganya dari rahmat Allah, menghilangkan ketenangan dan kebahagiaan dalam berumah tangganya.. Naudzubillah.

Tempat maksiat
Saya tidak heran pak kalo tempat ini kena musibah, ungkapnya !. memang kenapa pak sahut saya bertanya,, kampung ini mendapatkan adzab Allah karena banyak kemaksiatan disini, ungkap beliau memperjelas pernyataanya. Saya cukup kaget mendengarnya padahal baru saja usai bapak tersebut menjelaskan prihal dana bantuan yang tidak tepat sasaran dengan wajah penuh kesedihan dan membuat saya ikut terbawa suasana. Kemudian beliau melanjutkan ceritanya di kampung ini ada beberapa tempat sering di gunakan untuk aktifitas prostitusi terselubung, kemudian aktifitas perjudian, belum lagi pergaulan bebas anak remaja yang sudah kian tak terbendung, masya Allah pantas saja sahut saya.

 Teringat dengan sebuah hadist :
“Jika zina dan riba telah merebak di suatu kaum, maka sungguh mereka telah membiarkan diri mereka ditimpa azab Allah". (HR. Al-Hakim).
Kemudian perkataan sahabat Ali Bin Abi Thalib RA :

مَا نُزِّلَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِذَنْبٍ وَلاَ رُفِعَ بَلاَءٌ إِلاَّ بِتَوْبَةٍ
“Tidaklah musibah tersebut turun melainkan karena dosa. Oleh karena itu, tidaklah bisa musibah tersebut hilang melainkan dengan taubat.” (Al Jawabul Kaafi, hal. 87)

Apakah benar musibah tersebut di sebabkan karena perbuatan dosa para penduduknya..? Walahu’alam, jikapun benar maka cukuplah bagi kita mengampil sebuah pelajaran untuk bersegera dalam amal ma’ruf nahi munkar, tidak menunda-nunda dalam beramal shaleh, kemudian tidak tinggal  diam terhadap kemungkaran. Saya melihat banyak pula orang-orang shaleh disana, salah satu rumah warga yang barang-barangnya kami pindahkan, beliau terlihat alim dan ahli mesjid, namun beliau mendapatkan musibah yang sama, begitulah perbuatan dosa yang tidak hanya membahayakan dirinya namun juga orang di sekitarnya.

Sekedar Asumsi
Waktu menghentikan pembicaraan antara saya dan bapak tersebut, saya harus segera kembali mengerahkan pasukan katak, maksudnya pasuka relawan,hehe.. kembali bertempur berjibaku dengan lumpur, melanjutkan mangsa yang tertunda yang tidak sempat di habiskan di waktu sebelumnya.

Ada pemandangan yang mencolok selama kami hilir mudik di tempat tersebut, yang keanehan tersebut terasa saat pertama kali tiba di tempat itu, terutama tempat yang paling parah terkena dampak, sempat hilang dari pikiran namun teringat kembali oleh pernyataan bapak tadi yang mengobrol saat makan siang bahwa di tempat tersebut di duga ada aktifitas prostitusi, perjudian,dll. Keanehanya adalah... saya bertemu dengan beberapa orang laki-laki ataupun perempuan yang menggunakan tato hampir penuh menutupi muka dan anggota badan lainya, berikut juga dengan perempuan setengah baya yang tentunya tidak lagi muda berpakaian minim dan mengenakan rambut warna warni khususnya berwarna merah merona seperti rambut jagung,,hehe. Buat saya hal tersebut adalah aneh terlebih para pelakunya tidak lagi muda, dan yang paling penting indikator-indikator tersebut biasa di gunakan atau biasa terjadi di sebuah lingkungan yang memiliki aktifitas diluar batas kewajaran, bertato, pakaian minim, rambut pirang, sepertinya tidak ada konotasi yang tepat lagi baik untuk menggambarkan suasana yang elok bagi pemakainya melainkan menggambarkan sesuatu yang kurang baik. Saya dalam hati berkata “apakah benar tempat ini seperti yang di ceritakan bapak tadi, lagi-lagi saya hanya bergumam Walahu’alam, 


Semoga semuanya membawa kebaikan dan keberkahan, saudara-saudara kita disana di berikan ketabahan, kekuatan dan kesabaran. Yang kurang ta’at dalam beribadah kepada Allah Ta’ala semoga menjadi ta’at, yang sudah ta’at semoga makin ta’at, dan paling penting saudara-saudara kita yang sering bermaksiat semoga tobat, dan menjadi pribadi ta’at. Aamiin

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment