Pages

APA YANG KAU TINGGALKAN


Kematian itu pasti, setiap orang hanya menununggu giliran kapan panggilan itu menghampiri, mungkin tahun depan, mungkin bulan depan, bahkan mungkin hari ini, semua tak ada yang tau keculai Rabb sang pencipta.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa di jauhkan dari neraka dan di masukan kedalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan (QS Ali Imran 185)

source gambar : google.com
Sejenak kita merenung, di tempat yang saat ini kita tinggali bukankah ribuan bahkan mungkin jutaan orang pernah tinggal di tempat yang sama, kini kemanakah mereka pergi kalau bukan pada kehidupan yang kekal abadi, apa yang menjadi miliknya berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain, dari orang tua ke anak, dari anak ke cucu, dari cucu ke cicit begitu seterusnya, pemilik sebelumnya menua lantas mati, hidup pemilik baru yang pada akhirnya iapun menua dan mati.

Saat kematian datang tidaklah bermanfaat apa yang ia kejar dan ia kumpulkan melainkan 3 hal saja, ilmu yang bermanfaat, doa anak shaleh dan amal jariyah, itulah pesan Rasulullah untuk umatnya sebagai batasan orientasi antara orang yang beriman dan tidak, seorang yang beriman apapun aktivitas dunianya maka akhiratlah tujuanya, dunia hanyalah persinggahan dengan menyiapkan bekal sebanyak-banyaknya untuk perjalanan akhiratnya, sedang orang yang tidak beriman sebaliknya bahkan Ia rela menjual akhiratnya hanya untuk dunianya.

Setiap manusia tentu telah Allah berikan potensi  untuk menjadi manusia yang beriman dan tidak, salah besar jika seseorang tidak beriman lantas menyalahkan Allah dengan mengatakan bahwa itu takdir hidupnya, bukankah risalah itu telah sampai kepada dirinya dan setiap manusia telah Allah berikan akal untuk memilihnya bahkan jikapun ia kurang ilmu, kenapa tidak Ia cari ilmu yang telah Allah hadirkan di sekitarnya karena hidayah tidak datang jika ia tidak menjemputnya, kecuali jika Allah berkehandak lain.

Perbedaan orientasi hidup dari seseorang nampak dari apa yang telah dan akan di perbuatnya, kita telah temukan gambaran kehidupan dari setiap manusia yang telah mendiami bumi, manusia yang telah tau tujuan hidupnya lantas ia mengenal dan dekat dengan Rabbnya mereka hidup dalam kenangan yang di berkahi, begitupun manusia yang tidak mengenal tujuan hidupnya tidak kenal siapa Tuhanya akhirnya mereka hidup dalam hina dan nestapa jikapun ia terkenang hanyalah karena keburukanya. 

Sejak kehidupan manusia pertama di muka bumi kita telah diberikan gambaran dari keduanya (kebaikan dan keburukan), Qabil dan Habil keturunan nabi Adam Alaihissalam tergambar darinya simbol kebaikan dan simbol keburukan, Nabi Nuh simbol kebaikan, istri dan anaknya yang durhaka simbol keburukan, Nabi Luth simbol kebaikan, Istrinya yang durhaka dan kaum Sodom sebagaim simbol keburukan, Nabi Ibrahim dan Namrud, Nabi Musa dan Fir'aun, Nabi Muhammad dan Abu Jahal, Abu Lahab, semua mengajarkan tentang fakta sejarah yang terkenang hingga kini sebagai simbol kebaikan dan simbol keburukan. Di masa sekarangpun kita bisa saksikan  tokoh-tokoh yang muncul disekitar kita, tergambar jelas dari mereka mewakili simbol-simbol tersebut, para ulama dan pejuang yang gigih dalam membela dan memperjuangkan hak umat Islam yang terdzolimi dan menuntuk keadilan atasnya, namun saat yang sama muncul pula tokoh-tokoh yang menyuarakan sebaliknya, sesungguhnya mereka telah melukis dirinya yang akan terkenang dalam panggung sejarah di masa-masa berikutnya.

Lantas kita, yang saat ini hayat masih di kandung badan, degub jantung dan aliran darah masih seirama, tulang-tulang masih kokoh berdiri, mata,mulut dan telinga masih mau mengabdi, mau di kemanakan hidup kita ini, mau dibuat lukisan apa hidup kita ini, akankah terkenang dengan bingkai kebaikan ataukah keburukan, mungkinkah anak cucu kita, orang-orang di sekitar kita, mengenal kita sebagai simbol kebaikan yang darinya mengalir investasi pahala, ataukah kita terkenang sebagai simbol keburukan yang darinya hanya melahirkan hina dina dan nestapa.

Belum terlambat mari berbuat, Ahmad Syauqi pernah berkata dalam syairnya 
"Detak jantung seseorang seolah ingin mengatakan kepadanya bahwa kehidupan sebenarnya hanyalah hitungan menit dan detik.
Oleh karena itu, tinggikan sebutan dirimu setelah meninggal nanti, karena sebutan baik yang dimiliki seseorang setelah meninggal merupakan kehidupan kedua baginya.

Lembang, 14/11/2017

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment