Pages

BELAJAR DARI ORANG BESAR


Rasulullah bersabda : 
وَقَدْ وَرَدَ فِي اْلَاثَرِ عَنْ سَيِّدِالْبَشَرِ صَلى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اَنَّهُ قاَلَ :مَنْ وَرَّخَ مُؤْمِناً فَكَأَنمَّاَ اَحْياَهُ وَمَنْ قَرَأَ تاَرِيْخَهُ فَكَأَنمَّاَ زَارَهُ فَقَدْاسْتَوْجَبَ رِضْوَانَاللهِ فيِ حُزُوْرِالْجَنَّةِ.

“Barangsiapa membuat sejarah orang mukmin (yang sudah meninggal) sama saja ia telah menghidupkannya kembali. Dan barangsiapa membacakan sejarahnya seolah-olah ia sedang mengunjunginya. Maka Allah akan menganugerahi baginya ridhaNya dengan memasukkannya di surga.” (kitab Bbghyat al-Mustarsyidin halaman 97)

Hadist diatas mengajarkan kepada kita akan pentingnya mengkaji sejarah/biografi tentang orang-orang shaleh, para ulama, para mujtahid yang punya peran besar dalam membangun peradaban ini, kisah-kisah tentang mereka bagai lautan tanpa tepi untuk kita kaji, di setiap zaman selalu dan pasti ada manusia yang Allah berikan anugrah untuk memberikan sumbangsih besar terhadap kemajuan peradaban.  Ibnu Mas'ud pernah berkata "Orang yang berbahagia (beruntung) adalah orang yang mengambil nasehat (pelajaran) dari (peristiwa yang dialami) orang lain " (HR Muslim , no. 2645).

Peradaban Islam pernah menorehkan tintang emas yang gemilang dalam percaturan peradaban ini, para pelaku sejarahnya adalah mereka yang telah tersibghoh dengan nilai-nilai Islam hingga melahirkan pemikiran dan buah karya yang fenomenal , sebut saja peradaban Islam di baghdad  (Irak), Cordoba (Spanyol) dan mesir yang pada masanya menjadi simbol kemajuan peradaban umat manusia baik dari dari sains, tekhnologi, kedokteran, kebudayaan, dsb. Dimana saat yang sama peradaban barat yang kita kenal akan kemajuan tekhnologinya di zaman sekarang masih sangat terbelakang.

Literatur tentang sejarah/biografi orang-orang hebat yang pernah mendiami muka bumi ini bukanlah hal yang sulit untuk mengkajinya, banyak sekali buku-buku yang bisa kita temui, baik mereka yang hidup di masa lalu ataupun masa sekarang,  melalui biografi/sirahnya kita dapat mengambil pelajaran tentang bagaimana warna kehidupanya, bagaimana pola hidup untuk mencapai tujuanya, bagaimana keteguhan niat dan tekadnya, bagaimana kedekatan dengan sang penciptanya, dsb.

Setiap diri kita tentu punya keinginan, tujuan, cita-cita dan hal lainya yang serupa. Adalah fitrah jika kita punya keinginan tersebut, bahkan bisa dikatakan tidak *normal jika seseorang hidup namun tidak memiliki tujuan hidup, pada akhirnya setiap orang ingin sukses dan bahagia selama hidup di dunia dan di akhirat, meski sebagian lainya masih memandang kesuksesan dan kebahagiaan hanya dilihat dari kacamata materi dunia saja, sesorang yang kaya maka dia dikatakan sukses, seseorang menjadi penjabat maka dia sukses, seseorang begitu populer dikenal masyarakat luas maka dia sukses, padahal tidak begitu sukses dan bahagia dalam pandangan Islam adalah ukuranya akherat Allah menyampaikan dalam Al-Quran :
" Tiap – tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya hanya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga maka sungguh ia telah sukses. Kehidupan di dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan." (QS 3:185)

Ukuran sukses dan bahagia dalam Islam tidak di pandang dari materi, Islam tidak membeda bedakan antara seseorang yang berharta banyak dan tidak, antara seseorang yang memiliki jabatan dan tidak, Allah hanya memandang ketaqwaanya dan yang paling bertaqwalah manusia yang paling sukses karena tiket kebahagiaan akhirat sudah berada ditanganya, jikapun dia kaya selama di dunia maka kekayaanya hanya untuk bekal kehidupan akhiratnya, jika dia jadi penjabat dan begitu populer maka jabatan dan kepopuleranya semua dipersembahkan untuk kehidupan akhiratnya, bahkan jikapun dia tidak memiliki harta dan kekayaan dunia maka tidak mengapa, karena kesolehannya adalah sumber kebahagiaan dunianya yang kelak akan menghantarkan pada kebahagiaan akhiratnya.

Mempelajari dan mengkaji biografi seseorang tentu tidak hanya dibatasi dari kalangan ulama/cendikiawan muslim saja, kitapun boleh mengkaji biografi dari kalangan diluar umat Islam  karena ilmuwan-ilmuwan non muslimlah yang saat ini menguasai IPTEK, meskipun sebagai batu peletaknya adalah umat Islam, mereka yang kini hebat dalam berbagai disiplin ilmu tersebut hanya melanjutkan apa yang sudah di mulai oleh umat Islam terdahulu seperti Ibnu Sina cendikiawan muslim dalam bidang medis yang kemudian di kembangkan dan menjadi rujukan pada medis modern, Ibnu Firnas sebagai batu peletak dalam menciptakan pesawat terbang, Al-Khawarizmi sebegai penemu Ilmu Astronomi dan Ilmu matematika, berikut juga cendikiawan muslim lainya, 

Dalam mengkaji biografi seseorang diluar umat Islam (beragama non Islam) hendaknya mencukupkan diri kita pada batasan ilmu pengetahuanya saja, sedangkan yang berkaitam dengan kepribadian, pandangan hidup, cukuplah sebagai pembelajaran saja karena tentu ada sisi yang berbeda antara seorang muslim dan bukan, kebanyakan dari mereka yang mendewakan ilmu pengetahuan pada akhirnya menghilangkan Tuhan, mereka menganggap bahwa sudah tidak perlu lagi manusia dengan unsur ketuhanan, sebut saja di negara Jerman dimana negara tersebut adalah salah satu pusat IPTEK di dunia, konon kabarnya kehebatan negara Amerika saat inipun di dorong oleh orang-orang Yahudi Jerman yang pindah ke Amerika pasca perang dunia ke-2, mereka mengatakan bahwa Tuhan saat ini tidak ada di Jerman, karena saat ini Jerman sudah memiliki segalanya yang tidak perlu harus meminta kepada Tuhan,  saat ini Tuhan sedang jalan-jalan ke negara berkembang karena merekalah yang sejatinya butuh dengan Tuhan. Ya.. Intinya pandangan matrealistik mengubah paradigma seseorang terhadap sesuatu, di lihat dari hanya berdasarkan materi, termasuk unsur Tuhan, meskipun tidak semua orang Jerman seperti itu karena pada faktanya pasca tragedi WTC 11 September banyak orang Jerman yang berbondong-bondong masuk Islam, bermula dari kepenasaran mereka atas tuduhan Barat yang menyatakan Islam yang ada di baliknya hingga labelisasi Islam sebagai agama teroris, namun apa yang mereka khawatirkan tidak pernah di temukan sebaliknya kedaimaianlah yang mereka dapatkan. .. Jika demikian, ambil Ilmunya dan buang Atheisnya.

Kesimpulanya adalah, kita sebagai seseorang yang punya visi dan misi maka sering-seringlah menengok sejarah bagaimana orang-orang hebat terdahulu dapat merealisasikan cita-cita dan tujuanya, sekalipun sejarah dari orang-orang yang tidak mendapatkan hidayah untuk memeluk Islam, karena Ilmu Allah luas turun kepada siapa saja yang Allah kehendaki.
Lembang : 11/03/11

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment