Pages

JALAN MANA...!


Kebaikan dan keburukan selalu berdampingan, begitulah fitrahnya, Allah menciptakannya sebagai ujian bagi manusia, apakah ia sukses memilih jalan kebaikan ataukah celaka mengambil jalan keburukan.

Keduanya seolah berlomba mengambil peran untuk bisa jadi yang dominan, saat tunas kebaikan datang keburukanpun bergegas menebas-nebas pedangnya agar kebaikan tak pernah tumbuh, begitupun saat gelap datang karena keburukan, cahaya kebaikan tak luput untuk hadir dan menahbiskanya. 

Kisah pada setiap zaman memperlihatkan kepada kita selalu ada pertarungan diantara keduanya, pertarungan antara kesucian dan kedzoliman, pertarungan antara keimanan dan kekufuran. Sejak manusia pertama dimuka bumi kita telah di suguhkan gambaran atasnya, kisah Habil dan Qobil putra Nabi Adam Alaihissalam, Habil manusia yang ta'at, suci hatinya, lurus langkahnya, dan Qabil manusia durjana, kotor hatinya dan buruk langkahnya, begitupun beribu kisah lain pada masa-masa berikutnya, kisah dimasa para nabi dan para penentangnya, kisah para sahabat dan mereka yang memusuhinya bahkan hingga kini percaturan tersebut selalu ada, semua terekam dalam jejak sejarah.

Manusia yang memutuskan mengambil jalan kebaikan sesuai dengan titah Rabb semesta alam namanya terkenang harum semerbak bak bunga saat bermekaran, indah nian warna hidupnya sejuk syahdu saat di pandang. Kita dapati kisah-kisah mereka dalam jejak yang tidak pernah dilupakan, bahkan Allah abadikan mereka dalam Firmanya sebagai pelajaran bagi manusia, sebagaimana kisah Lukman Al-Hakim, kisah pemuda kahfi, kisah dzulkarnain dan kisah orang shaleh lainya lainya. Dalam hadist Rasulullahpun tidak luput kita dapati kisah tentang mereka, manusia yang di nanti-nanti bahkan di rindukan oleh syurganya Allah, manusia yang tidak hanya di kenang kebaikanya di kalangan penduduk bumi tetapi juga di kenang oleh penduduk langit.

Begitupun manusia yang menyalahi fitrahnya menjadi penentang Risalah, durhaka dan durjana terhadap Allah Rabb pemilik semesta, terkenang pula kisahnya hingga saat ini bahkan sampai hari kiamat. Dalam Al-Quran kita dapati  kisah Qarun yang serakah, kisah Namrud yang durjana, kisah Abu Lahab yang nestapa, semua menggambarkan tentang kenangan hina para pelakunya.


Gambaran kutub kebaikan dan keburukan mengajarkan kepada kita tentang jalan mana yang hendak di pilih, hidup dalam bingkai ketuhanan menjadi hamba-hamba yang ta'at menjalankan semua perintahnya dan menjauhi setiap laranganya ataukah sebaliknya. Setiap kita telah diberikan akal untuk memilih kemudian menggoreskan pena-pena pada kanvas kehidupan, dimana pada saatnya orang akan mengenang tentang diri kita, siapa dan bagaimana kehidupanya, begitupun saat kita pergi menuju keharibaan, lukisan itu akan benar-benar di pertanggungjawabkan, untuk apa usianya di habiskan, darimana rezekinya di dapatkan dan kemana Ia nafkahkan.

Banyak manusia yang terlupa tentang tujuan hidup, mereka mengira bahwa kehidupan di dunia adalah muaranya, segala upaya diperbuat untuk mengejar materi dan popularitas, darinya tiada lain mereka berharap bahagia, tak peduli halal atau haram, kawan atau lawan semua ia lakukan. Pada akhirnya mereka tertipu ternyata bahagia tidak berdasar pada materi dunia, betapa banyak manusia yang kaya raya, namun hidupnya nestapa, betapa banyak manusia yang begitu populer, namun tak ada pula bahagia darinya, pada akhirnya mereka lebih memilih mengakhiri hidup di puncak karir dan popularitas. Marilyn Monroe, Elvis Presley, Kurt Donald Cobain,Kevin Curtis dan masih sangat banyak yang lainya adalah bukti nyata bahwa popularitas bukanlah jaminan untuk hidup bahagia, mereka lebih memilih mengakhiri hidup ketimbang menikmati popularitas, nasib serupa tak luput terhadap mereka yang mendewakan kekayaan, Scot Young, Otto Belshem, Xu Ming, Jesse Livermore dan masih banyak yang lainya, adalah milirader yang lebih memilih mengakhiri hidup ketimbang menikmati kekayaanya. Padahal semua itu yang selama ini di kejar oleh kebanyakan manusia, menjadi dambaan setiap orang yang mengharapkanya.

Namun kenapa banyak pula manusia yang hidupnya sengsara dan terhina dalam pandangan manusia, tapi sebenar-benar bahagia terpancar jelas dari wajahnya, hidupnya penuh makna, teduh, tenang, indah, nyaman yang ia rasa meski tanpa ia miliki harta dan kedudukan, meski tanpa ia miliki pengormatan dan sanjungan. Sejatinya Ia telah memiliki segalanya, Ia sengsara tapi sesungguhnya kaya raya, Ia terhina tapi sesungguhnya mulia, kaya dan mulia karena Ia telah tau tujuan hidup yang sesungguhnya. Siapa dirinya, darimana, mau kemana dan untuk apa kehidupanya. Bahkan jikapun Ia benar-benar kaya dan berkedudukan maka itu bukanlah tujuanya, Ia menggengam semua dunia tapi tak ada satupun yang ada di hati, karena jelas tujuanya adalah akhirat semata.

Maka...
Lukisan mana yang hendak kita buat...
Warna apa yang hendak kita celupkan...
Cahaya mana yang hendak kita nyalakan...
Telaga mana yang hendak kita minum...
Dan jalan mana yang hendak kita pilih....

Lembang, 23/11/2017

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment