Pages

JANGAN DI BALAS SAMA


Rasulullah adalah sebaik-baiknya contoh dalam bersikap dan berprilaku, beliau adalah cerminan dari kesempurnaan ahlak yang luhur, dalam sikap dan prilaku, dalam bertetangga, dalam berumahtangga , dalam bernegara. Tinta sebanyak lautan tak akan cukup untuk mengisahkan tentang bagaimana keluhuran ahlak beliau, Allah menyampaikan dalam Al-Quran : "Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung" [68:4]. Dalam haditspun beliau bersabda : "Sesungguhya aku diutus untuk meyempurnakan akhlak yang mulia. (HR Bukhari). 



Namun tentu tidak semua muslim mampu meniru ahlak yang sudah Rasulullah ajarkan, bisa jadi Ilmu belum sampai kepadanya bisa pula warisan karakteristik dari adat istiadat daerah/wilayah tertentu yang tidak berkesesuaian dengan ketentuan syariat, semisal di suatu daerah memanggil seseorang dengan nada tinggi dan laqob buruk adalah biasa karena itu memang kebudayaanya, namun tentu tidak dalam syariat karena, kita tidak diperbolehkan memanggil seseorang dengan laqob (sebutan) yang buruk, begitupun dengan nada kasar terlebih terhadap orang yang lebih tua. 

Secara teori karakteristik seseorang terbentuk oleh pendidikan orangtua dan lingkungan, jika pendidikan dalam keluarga dan lingkingan baik sedari kecil sudah dikenalkan dengan pengetahuan agama maka barangtentu berpengaruh terhadap baiknya ahlak,  begitupun jika pendidikan dalam keluarga dan lingkungan buruk maka bisa dipastikan  buruk pula karakteristiknya, kita bisa temui ada seseorang yang peringainya bagus tutur katanya sopan, tidak mudah marah, hormat terhadap yang tua, sayang terhadap yang muda, senantiasa berprasangka baik, dsb. adapula pula yang memiliki karakter sebaliknya, mudah marah, kasar, keras kepala, sombong, angkuh, tidak hormat, dll. Tidak lain hasil dari bentukan pendidikan keluarga dan lingkungan. 

Seseorang yang berkarakter baik memang tidak selalu mereka yang telah faham agama, karena adat Istiadat lokal juga memiliki nilai-nilai tersendiri untuk menanamkan nilai-nilai kesopanan, meskipun antara satu daerah dengan daerah lainya memiliki nilai dan sifat yang berbeda dan kadang bertentangan, tidak pula seseorang yang sudah mengerti agama benar-benar mengimplementasikan apa yang sudah ia ketahuinya tersebut dalam ahlak dan karakternya karena tidak jarang seseorang itu hanya sekedar tahu namun tidak mau memahami dan mengamalkanya, namun tentu bagi seorang muslim hendaklah sunguh-sungguh mengamalkan semua ketentuan yang ada dalam agamanya. Kemudian parameter dalam menentukan standar ahlak adalah dari apa yang terdapat dalam agama tidak ditentukan berdasarkan adat istiadat, meskipun boleh dilakukan apabila tidak bertentangan namun  jika ditemukan ada pertentangan maka adat istiadat yang harus di tinggalkan.

Terlepas dari soal kefahaman ataupun karakteristik  bawaan biasanya ada faktor-faktor lain yang mempengarugi seseorang untuk berprilaku diluar dari kewajaran, permasalahan pribadi,  di keluarga, lingkungan sekitar, di kerjaan atau hal lainya bisa pula mengubah karakter seseorang yang biasanya baik, rendah hati, sopan santun, tiba-tiba menjadi kasar dan tempramental, suatu waktu sering kita jumpai orang-orang yang minim dalam adab, entah karena memang sudah menjadi karakter atau permasalahan pribadi, tatakramanya buruk hingga tidak jarang membuat hati dongkol saat melihat dan mendengarnya, jika mengikuti hawa nafsu tentu rasanya ingin kitapun membalas hal yang sama, namun tentu bukanlah hal yang baik karena jika kita balas berarti kita dan dia sama saja, sama-sama memiliki ahlak yang buruk, terlebih jika itu bersumber dari permasalahan pribadi antara kita dan dia, maka segera intropeksi dan minta maaf adalah langkah bijak untuk dilakukan. Jikapun itu memang sudah menjadi karakteristik maka tidak ada urusan untuk kita berbuat serupa, setiap orang tentu akan mempertanggungjawabkan setiap perbuatanya, iapun bagai menggambar tentang siapa dirinya hingga setiap orang dapat menebak jati dirinya, karakteristik yang buruk cepat atau lambat akan berbalas dengan keburukan yang ia dapatkan, tugas kita adalah lakukan kebaikan, jika suatu waktu kita mendpatkan perlakuan buruk maka balaslah dengan kebaikan, Allah menyampaikan dalam Al-Quran " tolaklah [kejahatan, perbuatan buruk] dengan ahsan [cara atau perbuatan] yang lebih baik " (QS.31 :4). Kitapun dapati contoh dari Rasulullah tentang sikap dalam menghadapi orang yang buruk dalam ahlaknya sekalipun dengan mereka yang berbeda aqidah,  kita wajib berbuat baik kepadanya.

Tengoklah kisah Rasulullah dengan yahudi buta, setiap hari Rasulullah senantiasa menyuapi dengan penuh kelembutan dan kasih sayang tanpa sepengetahuanya meskipun dari lidah sang yahudi buta keluar racun berupa kata-kata kasar, hinaan dan umpatan kepada Rasulullah, baru kemudian selepas Rasulullah wafat sang yahudi buta tersebut menyadari bahwa yang selama ini berlaku kasih sayang terhadapnya adalah orang yang setiap hari Ia hina dan caci maki. Tengoklah kisah Rasulullah dengan seseorang yang setiap kesempatan selalu melempar kotoran unta terhadap Rasulullah di kala beliau lewat, yang suatu ketika Rasulullah heran karena tidak di dapati orang yang selalu menyakitinya tersebut, kemudian Rasulullah bertanya kepada orang-orang sekitar dan didapati orang tersebut sakit parah, Rasulullah tidak membalasnya, beliau datangi rumahnya untuk menengok dengan penuh kelembutan dan kasih sayang, hingga pada akhirnya orang tersebut mendapat hidayah dan masuk Islam.



Begitulah Islam mengajarkan, jika suatu ketika kita mendapatkan prilaku buruk dari orang lain, maka jangan di balas sama, balaslah dengan kebaikan. Syukur jika kebaikan kita ternyata menjadi wasilah hidayah dan kebaikan. 

Lembang, 11/13/2017

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment