Pages

KARENA IMAN BUKAN HANYA YANG TAMPAK DI MATA (Part.3)


Ada nilai yang tak mampu di beli dengan materi seberapapun banyaknya, Ia adalah Iman manakala telah menghujam dalam dada. Dunia bagai satu butir debu diantara hamparan gurun sahara, tak berharga dan bernilai apa-apa. Iman adalah kebahagiaan tertinggi bagi siapapun yang telah menggengamnya, kerinduan yang bergelora bagi siapapun yang telah memilikinya. Ia kenal dengan siapa yang telah menciptakanya, Ia tau tujuan hidupnya, dengan tenang dan bahagia berjalan menyusuri lembah kehidupan tanpa was-was dan gelisah.

Adapun materi dunia adalah kepalsuan, kepalsuan yang membutakan mata, indah kala di pandang dan menyakitkan kala di genggam, manusia yang telah tertipu semua berakhir binasa dan nestapa. Harta, tahta, wanita, semua tak ada yang bertahan lama, kini Ia punya segalanya besok hilang di telan masa, kini Ia bertahta besok ia kembali jelata, kini wanita cantik di sisinya besok menua. Semua semu tak ada yang abadi.

Dunia, setiap manusia berbaris dan berdesakan karena tak mau ketinggalkan, kemudian berlari kejar mengejar berharap mampu mereguk Indahnya. Harta dan popularitas apalagi kalau bukan dari kedunya, harapanya tiada lain ingin bahagia... Tapi benarkan keduanya mampu menjadikan manusia bahagia...???

Memori kita baru-baru ini disegarkan oleh kisah seorang artis yang bunuh diri kala ia duduk di puncak popularitas.  Jonghyun SHINee artis korea yang digandrungi dan di puja-puja hampir di seluruh belahan bumi termasuk tanah Indonesia atas kepopuleranya dalam dunia tarik suara. Para penyuka K-POP ataupun drama-drama korea tentu lebih tau bagaimana kebesaran namanya. Pertanyaanya, kenapa Ia bunuh diri padahal Ia berada di puncak karir popularitas dimana jutaan orang berharap berada di posisinya... kenapa..?. Kalau begitu benarkah bahwa popularitas adalah sumber kebahagiaan..? Coba kita simak apa yang dia tuliskan sesaat sebelum kematianya :
"Aku sudah hancur dari dalam. Depresi yang perlahan-lahan menguasaiku seluruhnya, dan aku tak bisa menang darinya. Aku membenci diriku sendiri. Aku mencoba untuk bertahan dan meminta diriku untuk kuat, tapi tidak ada jawaban.Jika aku tidak bisa membersihkan napasku, lebih baik berhenti sekalian.Aku bertanya siapa yang akan menjagaku.Hanya ada Aku.Aku sendirian.Mudah mengatakan untuk mengakhiri semuanya.Sulit sebenarnya untuk mengakhirinya.Aku selama ini hidup karena kesulitan yang kuhadapi.Mereka mengatakan aku ingin kabur.Benar memang. Aku ingin kabur.Dari diriku.Dari kamu.Aku bertanya siapa. Ini Aku. Dan ini aku. Dan ini aku lagi.Aku bertanya kenapa aku semakin kehilangan kenangan. Mereka menjawab karena itu kepribadianku. Baiklah. Jadi pada akhirnya semua ini salahku.Aku ingin seseorang menyadari, tapi tidak ada. Tidak ada yang menemuiku, tentu saja mereka tidak tahu aku ada." 
Jelas tergambar kehampaan hidupnya, kering kerontang dan mengenaskan, padahal harta dan popularitas semua Ia miliki. Bohong berarti bahwa keduanya adalah pintu untuk kebahagiaan. Lantas apakah sumber kebahagiaan yang sebenar-benarnya membuat manusia bahagia..?. Mari kita perhatikan ungkapan Yaki Takazawa salah seorang mantan geng Yakuza yang begitu terkenal dan ditakuti di seantero negri sakura Jepang, yang kemudian menjadi mualaf masuk Islam.
Kami buat mobil kirim ke kalian
Kami buat ipad kirim ke kalian
Kami buat mesin cuci kirim ke kalian
Semua yang dapat memenuhi kebahagiaan dunia kalian kami buat kami kirim ke kalian
Tapi kalian dzolim kepada kami orang jepang. Kalian punya ISLAM yang dapat membahagiakan hidup kalian dunia dan akhirat tetapi kalian tidak kirim kepada kami orang Jepang
Di Jepang jutaan orang mati dalam keadaan kafir, tapi kalian hanya diam dan tidak kirim islam kepada kami.
Ya Islam adalah jalan keselamatan dan keimanan terhadap Allah Rabb semesta alam adalah kebahagiaan. Hidup sengsara atau bergelimang harta tak jadi soal, karena itu adalah ujian bukan tujuan. Ia sengsara namun tetap bahagia, hatinya penuh bunga-bunga cinta. Hidup hanya sesaat, kekurangan bukanlah masalah, karena Allah maha mencukupkan yang tidak mungkin dzalim terhadap hamba-hambanya. Ia hanya berikhtiar selebihnya Allah yang berkehandak atas jatah rezekinya. Dan jikapun Ia kaya, maka itupun bukan tujuanya. Ia tahu bahwa itu adalah ujian, menafkahkan dijalan Allah adalah keharusan agar kelak tidak mencelakakan. Hartanya ada di tangan dan tak pernah ada di hati, karena keberadaan Allah telah memenuhi seluruh isi hatinya dan tak mungkin terganti dengan sesuatu apapun.

Lembang, 20 Desember 2017

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment