Pages

KARENA IMAN BUKAN HANYA YANG TAMPAK DIMATA (Part.2)


Mengutip pesan Ibunda Muzammil Hasbalah, seorang pemuda yang beberapa waktu lalu viral di media sosial ataupun televisi, karena suaranya yang merdu kala melantunkan ayat suci Al-Quran. Ibunya berpesan  " Jadilah engkau berhati Mekah dan berotak Jerman". Nasihat tersebut bukanlah kata-kata tanpa makna tetapi memiliki filisofi yang luar biasa. Berhati Mekkah artinya hati yang selalu terikat kuat dengan agamanya dalam keadaan apapun dan dimanapun, sebagaimana Mekkah adalah sebagai salahsatu representasi umat Islam, disanalah Risalah kenabian bermula, dan tempat dimana jutaan manusia berkumpul sepanjang tahun untuk Ibadah, Umrah, Ziarah, ataupun Haji. Berotak Jerman artinya berotak cerdas menguasai berbagai ilmu pengetahuan baik sains, tekhnologi dan lainya, sebagaimana negara Jerman adalah simbol kemajuan sains dan tekhnologi saat ini.

Prof. B.J Habibie adalah salah satu tokoh yang bisa mewakili dari keduanya, wajib ditiru oleh mereka yang giat melancong ataupun bermukim dalam jangka waktu tertentu ke negri-negri barat, Beliau tidak kehilangan Identitas keIslamanya meskipun puluhan tahun tinggal di negri tersebut khususnya Jerman, otaknya begitu cerdas hingga pada masanya belau adalah satu-satunya orang Asia yang bisa menduduki jabatan kedua tertinggi sebagai Vice President perusahaan pesawat terbang di negri tersebut, hingga beliau begitu di hormati dan dikagumi oleh seluruh lapisan masyarakat, namun sekali lagi kita bisa dapati dalam biografinya bahwa beliau tidak kehilangan Identitas keislamanya apalagi murtad dari agamanya karena merasa memiliki kecerdasan kemudian mendewakanya, sebagaimana orang-orang Jerman rata-rata mereka 33 - 40 % Atheis (tidak bertuhan) dimana tidak mengenal konsep ketuhanan dalam tatanan kehidupan dan itu sebagian besar dianut oleh kaum Intlek, hingga ada sebuah istilah yang cukup masyhur di kalangan mereka yang maknanya kurang lebih, ("bahwa Tuhan kini sedang jalan-jalan ke negri-negri yang sedang berkembang, karena merekalah yang butuh Tuhan untuk dimintai keinginan, sedangkan di Jerman tak butuh lagi Tuhan, semua yang dibutuhkan selalu ada dan tersedia" - pen). Begitulah kira-kira pandangan orang-orang Jerman dalam memaknai makna Tuhan, dilihat dan diukur hanya dengan konsep materialistik.

Setali tiga uang, Prof. A.M Saefuddin yang pernah menjabat sebagai Mentri Pangan dan Holtikultura dimasa Presiden BJ. Habibie, beliaupun adalah salah seorang yang mengecap asam garam kehidupan di Eropa semasa kuliah, namun justru sama sekali tidak menghilangkan nilai-nilai luhur keislaman dalam dirinya, justru ruh-ruh keislaman kian bergelora sehingga sepulang dari Eropa, beliau begitu gigih dalam mengusulkan dan memperjuangkan konsep keislaman dalam sistem perekonomian di Indonesia, salahsatunya dengan berdirinya Bank Muamalat sebuah Bank yang mengusung konsep Syariah pertama di Indonesia, adalah salahsatu bukti perjuangan beliau dan tokoh-tokoh umat Islam dimasa itu, belum lagi kepedulian beliau terhadap pendidikan berbasis pesantren, dimana beliau mendirikan beberapa lembaga pendidikan diantaranya Ponpes Darul Falah, Ponpes Al-Fathanah, dan lainya, dan tidak terhitung jasa beliau lainya, yang semuanya memiliki narasi keislaman.

Dua tokoh diatas mewakili ratusan bahkan ribuan tokoh lainya yang benar-benar telah merasakan dan menjadi bagian dari peradaban barat, namun keimananya kian kokoh tak mempan di terpa badai Liberalime, rasanya mereka lebih hebat dari (maaf) mba Rina Nose, dari segala hal, atas bawah, kiri kanan, luar dalam, hehe, tapi kenapa mba artis yang baru 2 atau 3 hari berkunjung, lamanya mungkin 1 atau 2 pekan, secepat kilat hancur keimananya gegara melihat sisi lain yang dikiranya sebagai ekspektasi hidup dari kehidupan di eropa atau negara maju lainya yang pernah Ia kunjungi.

Konsep berfikir "Hati mekah dan otak Jerman" adalah penting sebagai batasan bagi kita agar tidak tergelincir manakala kita mampu mengoptimalisasikan kecerdasanya pada puncak Sains dan Ilmu pengetahuan yang saat ini menjadi tolak ukur dari kehebatan sebuah peradaban, karena nyatanya antara sains dan agama tidak bertentangan, telah banyak temuan-temuan dalam sians modern ternyata sudah ada jauh-jauh hari tertulis dalam Al-Quran, Seperti Teori Big Bang, Teori Perputaran Bumi, Teori Hujan, Proses pembentukan Janin dalam rahim, dan lain-lain. Jadi meninggalkan Islam karena kebodohan bahkan menganggap bahwa Islam hanya menjadikan Primitif, sehingga ia lepaskan tali-tali agama dari dirinya, adalah sebuah kecelakaan besar bagi pelakunya.

Jika kita bandingkan negara-negara Islam saat ini memang masih tertinggal dari negara Barat, tapi bukan berarti menjadi pembenaran bahwa ajaran Islam hanya menjadikan penganutnya terbelakang, karena dalam sejarahnya, Islam manakala umatnya memegang teguh ajaranya pernah memuncaki peradaban melebihi hegemoni barat saat ini, sebut saja peradaban Mali di Barat Sahara, Kordoba di Andalusia, Baghdad di Mesopotamia, hingga Delhi di anak benua India. Kebudayaan-kebudayaan ini menjadi lokasi banyaknya pencapaian besar umat manusia dalam bidang ekonomi, budaya, sains, dan militer. Saat itu hanya kekaisaran Cina di timur jauh saja yang cukup mendekati kejayaan umat Islam.

Itu artinya jika negara-negara mayoritas umat Islam saat ini kalah maju dengan negara-negara barat atau negara-negara maju lainya yang tidak mengenal konsep keislaman dalam tatanan masyarakat dan negaranya, bukan berarti agamanya yang salah, bukan berarti ajaran Islamnya yang keliru yang menjadikan negara tersebut terbelakang, tetapi dari pelaku sejarahnya itu sendiri yang jauh pergi meninggalkan Islam, karena dalam ketentuan syariat, apa saja kebaikan yang ada di peradaban barat, dari berlaku jujur, tertib, tertatur, bersih, tertata, rapih, dan lain sebagainya, semuanya sudah ada dalam ketentuan syariat, termasuk dalam urusan sains dan ilmu pengetahuan Syariat Islam begitu terbuka agar umatnya  berfikir maju dan ikhtiar, kita kenal dalam sebuah hadist “Antum a’lamu bi umuriddunyaakum". Kalian lebih tahu tentang perkara dunia kalian.” [HR. Muslim] . Hal ini menjelaskan bahwa bahwa dalam urusan keduniaan khusus yang bersifat ilmu pengetahuan kita bisa lebih tau dari Rasulullah jika kita terus menggalinya, sekaligus hadist diatas adalah bentuk legitimasi akan kebolehan kita dalam mencari atau menemukan teori-teori dalam ilmu pengetahuan, bahkan seperti yang sudah disebutkan sebelumnya bahwa dalam Al-Quran itu sendiri mengandung sains dan Ilmu pengetahuan.

Namun ada hal menarik yang bisa jadi menjadi bahan renungan untuk kita, Syekh Muhammad Abduh salah seorang Ulama Mesir pernah berkata "Al-Islamu mahjubun bil muslimin" Maknanya kurang lebih, "Keindahan Islam ditutupi oleh kaum muslim sendiri, atau cahaya Islam justru diredupkan oleh orang-orang yang memeluknya -red". Hal tersebut menggambarkan tentang carut marutnya negri-negri Islam saat ini yang semuanya bertolak belakang dengan apa yang terdapat dalam ajaran agama Islam, sehingga keindahan Islam, kemuliaan Islam, tertutupi oleh prilaku umat Islam itu sendiri. Pada akhirnya orang-orang diluar Islam melihat gambaran bahwa itulah Islam sebagaimana prilaku para penganutnya,  padahal tentu salah kaprah jika melihat Islam hanya dari para penganutnya kadangkala mereka tidak bisa menggambarkanya secara utuh, tapi lihatlah sumber utama dalam ajaranya, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah. Ada faktor-faktor tertentu yang menjadikan umat Islam jauh dari agamanya, baik itu yang bersifat personal dalam bentuk kelalaian, ataupun berupa kebodohan kolektif dimana musuh-musuh Islamlah biangkeroknya, secara masif dan terstruktur terus menerus menjauhkan umat dari agamanya, melalui  jalur pendidikan yang dibuat kian sekuler, melalui media dengan menciptakan trend-trend tertentu dalam meracuni interaksi sosialnya, dan segudang  perangkap lainya.

Bersambung....
Lembang, 19/12/2017

KARENA IMAN BUKAN HANYA YANG TAMPAK DIMATA (Part. 1)

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment