Pages

KARENA IMAN BUKANYA HANYA YANG TAMPAK DIMATA (Part.1)



Umpama rasa manis hanya dirasakan oleh mereka yang sehat dalam fisiknya, begitulah Iman lezatnya hanya dirasa oleh mereka yang sehat dalam iman dan kokoh aqidahnya. 

Baru saja kita di pertontonkan seorang artis yang lepas jilbab gegara ia lihat budaya barat yang di kira lebih beradab meski tak beragama, lantas Ia meragukan kebenaran syariat dalam agama yang ia anut, beranggapan bahwa Syariat tidak memiliki kontribusi terhadap majunya peradaban.

Ia berasumsi bahwa untuk bisa maju dalam peradaban sebuah negara tidaklah mesti beragama, negara-negara barat yang telah Ia kunjungi dimana mereka mengusung konsep liberalisme telah membuktikanya, semua serba teratur, disiplin dalam berbagai hal, maju ekonomi dan tekhnologinya. Berbanding terbalik dengan negara yang menjaga prinsip dalam beragama khususnya negara-negara Islam, agamanya tidak membuatnya maju dalam peradaban, kotor, kumuh, semrawut, terbelakang, dan lain-lain. Begitulah pikirnya.

Ia anggap bahwa kemajuan peradaban sebuah negara hanya dilihat dari apa yang tampak di mata, bangungan menjulang tinggi, fasilitas serba canggih dan mutakhir, serba tertib dan teratur. Ia lupa bahwa kemajuan sebuah peradaban tidak di lihat dari bentuk fisiknya saja, tapi dilihat pula bagaimana aspek moral dan keberlangsungan demografi penduduknya, dimana peradaban barat para pakar telah menganalisa termasuk dari kalangan barat sendiri bahwa peradaban mereka tinggal menghitung mundur saja untuk menuju kehancuran... Heran bukan, si mba artis ini perlu piknik melihat segala hal secara menyuluruh agar tidak cepat mengambil kesimpulan, yang pada akhirnya membuat celaka hidupnya.

Dalam aspek sosial kita temui kebenaran bahwa barat benar-benar di hujung tanduk menuju kehancuranya. Bermula dari pembangkangan atas otoritas gereja yang pada masanya antara kristen dan Eropa adalah simbol yang tidak bisa dipisahkan akhirnya Eropa memulai babak baru dengan mengusung konsep kebebasan atas individu (liberalism). Kebebasan tanpa norma agama sebagai aturan positifnya dan kebebasan dengan interpretasi mereka sendiri dan dijaga dengan institusi demokratis. Ternyata kebebasan tersebut akhirnya menjadi boomerang bagi masyarakat itu sendiri. 

Dimana konsep kebebasan yang mereka usung kemudian melahirkan budaya individualistis, mereka tidak mengenal lagi siapa tetangga dibalik halaman dan tembok rumahnya semua bersifat pragmatis dapat saling mengenal karena ada urusan uang lepas itu tak tahu dia siapa, kemudian budaya bersenang-senang (hedonism), seks bebas yang memprihatinkan, bertahun-tahun satu rumah dan memiliki beberapa anak namun diantara mereka tak ada ikatan pernikahan, asal suka, mau sama mau dimanapun bisa jadi untuk transaksi hasrat, prilakunya lebih buruk dari sifat hewan, dan bahkan atas nama kebebasan atau persamaan akan HAM, perkawinan sesama jenis dibolehkan. Ini adalah permasalahan yang sulit untuk di carikan solusinya karena budaya-budaya tersebut sudah melekat kuat bersama mereka, hingga kehancuran moral adalah fakta yang tidak bisa terbantahkan. Dan ini adalah titik awal hancurnya peradaban mereka di kemudian.

Berikutnya adalah Eropa mengalami Krisis Demografi yang akut, menurut sebuah hasil penelitian bahwa sebuah kebudayaan bisa bertahan hingga diatas 25 tahun jika rata-rata jumlah kelahiran di wilayah tersebut adalah 2,11 persen. Dan jika hanya 1,9 atau 1,3 persen maka bisa dikatakan mustahil kebudayaan tersebut bisa bertahan. Melihat Eropa Saat ini, tingkat kelahirannya sangat memperihatinkan. Tingkat kelahiran 31 negara di bawah Uni Eropa hanya sekitar 1,38 persen. 1,8 di perancis, 1,6 di Inggris, 1,4 Yunani, 1,3 Jerman, 1,2 italia, dan 1,1 Spanyol. Hal ini tentunya sangat menghawatirkan bagi barat itu sendiri, seperti pernyataan Paus benedict XIV yang kemudian ditulis oleh Joseph A. D'Agostino, wakil presiden Population Research Institute, “Before these families with their children, before these families in which the generations hold hands and the future is present, the problem of Europe, which it seems no longer wants to have children, penetrated my soul. To foreigners this Europe seems to be tired, indeed, it seems to be wishing to take its leave of history,”. "Periode sebelumnya, menurut sang Paus, Keluarga-keluarga masih bersama dengan anak-anak mereka dan kemudian berpegangan tangan untuk melanjutkan masa depan peradaban dan saat ini masyarakat Eropa tampaknya sudah tidak berminat lagi untuk memiliki keturunan dan kita mesti merebut kembali sejarah yang hilang itu".

Di lain kesempatan sang artispun membahas soal negri Jepang yang tidak kalah maju seperti halnya Eropa, pada jejak digitalnya kita bisa temui keheranan sang artis tentang begitu teratur, disiplin dan hebatnya orang-orang jepang padahal mayoritas mereka tidaklah beragama. Lagi-lagi dia mempertanyakan peran Agama terhadap berlangsungnya sebuah peradaban, Ia membenarkan bahwa untuk bisa baik dan hebat tidaklah mesti beragama. Nyatanya ia tak tahu bagaimana realita kehidupan di jepang yang sesungguhnya, sekali lagi hebatnya sebuah peradaban tidak dilihat dari menjulang tingginya bangunan dan modernya sebuah negara tapi dilihat pula bagaimana kualitas manusianya, bagaimana perkembangan moral yang ada di masyarakatnya. Si Mba artis perlu melihat pula bagaimana realita kehidupan masyarakat di Jepang, yang tidak bisa di lihat hanya dengan kunjungan 1 atau 2 hari lantas Ia menyimpulkan sesuka hati dan fatalnya Ia kaitkan dengan urusan agama itu tidak fair namanya, karena orang awam akan angguk kepala lantas membenarkan dan mengikuti jejak kekufurannya. 

Perlu kita tahu bahwa jepang adalah salah satu negara dengan angka bunuh diri tertinggi di dunia setiap tahun 20.000 s/d 30.000 orang melakukan bunuh diri, apakah mereka bunuh diri karena bahagia.... Tentu tidak, melainkan itu pertanda bahwa jepang memiliki tingkat stress yang tinggi dan rendahnya tarap kebahagiaan masyarakatnya. Lebih jauh dari itu jepang memilik tradisi memilukan bagi kebanyak negara yang memiliki peradaban yang baik. Kodokushi  atau dalam bahasa Indonesianya adalah mati dalam kesendirian, ini adalah salah satu trend yang terjadi di jepang dimana banyak orang khususnya orang-orangtua dia mati dalam kesendirian tanpa diketahui oleh siapapun, berminggu-minggu, berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun tak ada yang mengetahui bahwa dia telah mati, membusuk begitu saja di tempat terakhir dimana ia menghembuskan nafas terakhirnya, trend ini tiada lain dari hilangnya kepedulian seorang anak terhadap para orangtua, dikala orangtua memasuki masa jompo maka para anak mengantarkan mereka ke panti jompo karena tidak mau repot mengurusi orangtua, hingga tidak jarang pula para orangtua yang sudah jompo lebih sudi mengakhiri hidup dengan harakiri ketimbang mengalami pilunya hidup di panti jompo, bahkan beberapa dekade sebelumnya Jepang memiliki sebuah tradisi yang lebih memilukan. Sebuah gunung bernama Obasuteyama disanalah saksi bisu tentang sebuah tradisi pembuangan manula oleh anak laki-lakinya agar mereka tidak direpotkan dengan mengurus dan memberi makan para orangtuanya. Tradisi tersebut memang telah dibantah bahwa kini sudah tidak lagi terjadi, namun dengan mengirimkan orangtua yang sudah jompo ke panti adalah pembuangan gaya baru yang tidak jauh berbeda dengan tradisi sebelumnya hanya saja mungkin jauh lebih beradab. Itu pula pertanda bahwa di Jepang ikatan antara anak dan orangtua tidak sepenuhnya benar-benar memiliki nilai luhur dan sakral sebagaimana yang dianut oleh negara yang memegang teguh konsep keagamaan sepertihalnya Indonesia. 

Apakah ini sebuah kemajuan dalam peradaban..., saya mengatakan bahwa ini adalah kemunduran dalam peradaban senasib sepertihalnya Eropa atau Amerika... Lantas apa alasan kita untuk menjadikan negara Barat sebagai Trendsetter jıka pada akhırnya kıtapun akan membebek kerusakan moral yang sudah lebıh dahulu mereka lalui...???

Bersambung...

Lembang,14/12/2017

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment