Pages

KENAPA MENULIS

Jika di tanya kenapa harus menulis, tentu setiap orang punya interpretasi yang berbeda sesuai dengan latar belakangnya masing-masing. Terlebih tulis menulis itu luas cakupanya, tidak hanya milik seorang jurnalis atau novelis, pun begitu bukan milik seorang guru atau murid yang keseharianya berkutat dengan aktivitas menulis. Anak sayapun yang usianya baru menginjak 2,5 tahun sepertinya bisa dikatakan seorang penulis, dimana tak ada tembok yang nganggur untuk melancarkan aksinya membuat coretan-coretan manis... #&#&. Terlebih bagi istri saya sepertinya dia adalah penulis yang ulung, karena dia telah menulis-nulis cinta di dinding hati saya....  #weww. 

Bagi saya menulis adalah keharusan, karena setiap kita punya sejarah masing-masing, kisah-kisah itu perlu dibagi, terlebih jika Ia kebaikan, rugi jika hanya dinikmati diri sendiri. Bagikan kepada orang lain tentu berbalas kebaikan yang lain. Harapan besarnya agar hidup tidak hanya sekedar nama yang berganti masa kemudian dilupa tapi ada catatan yang mengatakan bahwa kita pernah ada dalam panggung cerita. Kelak anak cucu perlu tahu bahwa kakek buyutnya pernah berbuat sesuatu, jika itu kebaikan syukur jadi pondasi kemudian mereka melanjutkanya, menjadi pengingat pula bagi mereka bahwa kakek buyutnya masih hidup, hidup dalam bentuk nasihat-nasihat yang di tulisnya.

Saya bisa di kata orang baru dan awam dalam kegiatan tulis menulis, belum genap hitungan tahun mencoba memberanikan diri menulis sesuatu yang saya anggap perlu. Pun maksud utama saya membuat tulisan ini tiada lain mengingatkan diri agar tambah giat dan terus belajar. Belajar menuliskan kisah dan hikmah, moga jadi pengingat diri dikala futur dan bersyukur dikala mujur. Syukur-syukur jika ada orang lain yang membaca dan mengambil hikmahnya kemudian diapun sama2 menjadi ahli syukur. &@&@

Kita bisa lihat banyak orang hebat, ilmunya padat, retorikanya mantap, namun kala menulis gelagap. Itulah uniknya menulis, perlu belajar dari nol dan perlu pembiasaan untuk bisa menerjemahkan lintasan pikiran kedalam goresan pena. Hebat di retorika belum tentu hebat di pena, hebat di pena belum tentu pula hebat di retorika sepertihalnya baru-baru ini viral di sosial media. Abu Janda Al-Boliwudi namanya, di sosial media begitu garang bagai macan kemayoran, tapi saat tampil di ILC TV One bagai macan Cisewu...nyegir ompong..#هههه. Sekedar cerita sayapun pernah di buat putus asa dikala keinginan menulis bertemu jalan buntu, tema-tema yang di kumpulkan di alam pikiran seketika hilang saat pensil menggoreskan kalimat pertama...aneh bin ajaib.. Itu pula yang mungkin dirasakan oleh setiap orang yang mencoba melakukan aktivitas menulis di awal-awal pertarunganya.

Ustadz Yusuf Mansur dalam sebuah ceramahnya pernah mengatakan bahwa "seorang muslim mestilah pandai menulis, karena sejarah tidak mungkin jadi catatan jika tak ada seorang penulis yang menuliskanya. -red. Beliaupun menambahkan, bagaimana caranya agar bisa menulis, mengingat kebanyakan orang begitu kesulitan kala pertama kali mencoba untuk menulis, lantas beliaupun mengatakan bahwa "tulislah bahwa saya ingin menulis, namun mengalami kesulitan untuk menuliskan apa yang ingin saya tuliskan. -red . (lucu bukan, begitulah faktanya). Ya.. semua butuh perjuangan, pada perkembanganya kita akan dapati ternyata jalan itu nyatanya tidak buntu tidak pula terlalu berliku (jalan menulis) namun belum terbiasa dan membiasakan saja kita menerjemahkan lintasan pikiran kedalam bentuk tulisan. Perlu waktu dan terus belajar tepatnya.

Saya malu jika hendak mengingatkan atau memberi motivasi orang lain untuk mencoba memulai langkah menuliskan apa saja kebaikan yang kita alami setiap hari. Dari bangun sampai bangun lagi, beribu kisah bisa dilewati, sayang benar jika dilupakan, padahal orang lain perlu belajar dari yang pernah kita rasakan. Saya tidak punya kapasitas untuk menggurui. Ini hanya berbagi.  Selebihnya kita sama-sama belajar, belajar bersama 

Tidak pula bahwa saya orang alim, serba tahu hukum dari setiap urusan dengan kesolehan membalut badan.. bukan..#belum maksudnya.., doakan.  Dengan segala keterbatasan mencoba mengamalkan apa yang Rasulullah wasiatkan "Hikmah itu adalah barang yang hilang milik orang yang beriman. Dimana saja ia menemukanya, maka ambilah (HR.Tirmidzi). Dan hidup penuh hikmah yang bertebaran, sayang jika di lewatkan. Betul..

Ada sebuah nasihat yang menarik untuk kita renungkan :
Kita sering membaca sejarah orang lain, namun kita jarang memikirkan bagaimana kita menciptakan sejarah kita sendiri agar kelak dibaca oleh orang lain.
#Mari Menulis.

Lembang, 21 Desember 2017.

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment