Pages

*NGIRI DENGAN JEJAK ORANG SHALEH*


Waktu berlalu begitu cepat, esok, hari ini, dan kemarin adalah lintasan masa sekejap mata.

"Rasanya baru kemarin aku masuk SMA, eeh, sekarang udah lulus saja", "rasanya baru kemaren aku mengikuti masa orientasi kuliah, eeh, gelar sarjana  kini sudah berderet di belakang nama". Begitulah beberapa ungkapan yang  biasa menghampiri diantara pembicaraan kita. Cepatnya waktu berlalu seolah mengalahkan rasa bagaimana ruh dan jasad ini menikmatinya.

"Pertanda bahwa kita begitu betah menikmati hidup tenggelam dalam bujuk rayu dan gemerlapnya", mungkin itu alasanya, hingga kita lupa bahwa hidup berbatas waktu, setelah kehidupan ini ada kehidupan lainya yang menunggu".

Waktu terasa cepat berlalu, seperti saat kita menonton sebuah film yang begitu menarik jalan ceritanya, waktu 2 jam terasa 2 menit saja, enggan jika berakhir, maunya terus duduk meminta waktu lebih lama untuk menikmatinya.

Ya... Kabar duka hari ini menyelimuti kita, rasanya baru saja kita bersua denganya dalam ceramahnya, dalam nasihat-nasihat tulisanya,dalam majlis-majlisnya ilmunya, namun Allah sang pemilik raga berkehendak lain atas dirinya, hari ahad 14 januari pukul 10:15 adalah batas akhir dari hidupnya kembali kepada pangkuan sang pencipta.

Ustadz Hilman Rasyad, beliau telah pergi meninggalkan kita, menuju kepangkuan Rabb sang pencipta. Allah menjadi saksi bahwa ilmu yang beliau ajarkan mengalir dalam darah-darah kita, dalam setiap tulang dan persendian kita. Semoga Allah ampuni setiap dosanya, Allah terima setiap amal shalehnya, dan Allah tempatkan beliau pada tempat terbaik disisiNya.

Ust Hilman Rasyad "Semoga Allah merahmatinya"
Ada satu hal yang penting kita jadikan pelajaran, bahwa kita mesti ngiri dengan jalan cerita dalam hidupnya kita dapati amal shaleh tak luput membersamai setiap langkahnya, tak ada waktu luang melainkan beliau duduk dalam majlis-majlis ilmu yang di embanya, satu tempat ke tempat lain, satu mesjid ke mesjid lain, terus berputar tiada henti sampai maut memisahkan ruh dari raganya. Di waktu senggang lepas mengisi kajian, dakwah lewat tulisan adalah santapan amal shaleh lainya dengan menulis buku, artikel untuk sebuah majalah, ataupun lainya termasuk dakwah lewat sosial media.

Kita dapati 2 hari sebelum beliau wafat, beliau sempat menulis sapaan hangat di twitter  tentang keharusan semangat membersamai keberkahan di hari jumat, tak luput beliau jelaskan pula sebuah bahasan yang menarik  tentang "Karakteristik Islam" yang mestinya menjadi perhatian setiap diri kita sebagai seorang muslim.

Jalan cerita hidup beliau jadi persaksian di hadapan Tuhanya, bahwa hidup dan kehidupanya benar digunakan sesuai dengan fitrahnya.

Sekarang bagaimana dengan hidup kita, adakah punya misi dan cita yang serupa?. Jika hidup hanya sekedar hidup, ilalang yang tumbuh di halaman rumah juga hidup. Bahkan bisa jadi dia lebih mulia, karena tak luput menyebut tasbih untuk Tuhanya. Sedang kita... cerita apa yang sudah kita buat?, amal shaleh apa yang sudah kita buat?.

Apa yang hendak dikata, jika kelak saat penghisaban, bekal amal shaleh tak cukup untuk memasukan kita kesurgaNya, padahal "waktu itu" ada tidak lain agar kita beribadah kepadanya.

Dengan hamparan karuniaNya yang tak pernah kurang memenuhi setiap hajat kita, tak cukupkah itupun membuat kita bersyukur dan makin taat menjalani hidup sesuai dengan fitrahnya.

Semoga, Inayah dan TaufiqNya  selalu membersamai kita.

Lembang, 14/01/2018

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment