Pages

Notes From Sukabumi (Bag.1 - Tragedi Subuh)


Waktu sudah menunjukan pukul 16:00 WIB, tiba saatnya saya dan tim harus segera berangkat, sudah satu jam yang lalu mobil yang akan mengantarkankan kami ke tempat tujuan menunggu manis di halaman parkir. Kawasan Taman Wisata Alam Geopark Ciletuh Sukabumi adalah tujuan kami, rencananya 3 hari kami akan menghabiskan waktu disana untuk aktivitas Outdor dan Training Leadership guru dan karyawan di sekolah tempat kami mengajar, tepatnya 30 Desember 2017 sampai dengan 1 Januari 2018. (1 Tahun lamanya.. hehe). Atomatis kamipun akan menghabiskan perayaan akhir tahun disana tentunya, namun sayangnya kami (khususnya saya) bukan termasuk kaum yang suka merayakannya, karena bagi kami perayaan itu erat dengan urusan ibadah, yang tentu secara histori dalam agama kita (baca : Islam) perayaan tahun baru masehi tidak punya hubungan kekerabatan dengan urusan ibadah bahkan punya noda hitam jika harus di angkat dalam cerita. Cukuplah menghormati saja. Bagi anda saudara yang tidak seiman (baca : non muslim) yang merayakan hari natal dan tahun baru, monggo silahkan "Amaluna Amalukum" menghormati tidak harus ikut ambil bagian dalam perayaan, dan bagi anda saudaraku seiman baiknya tahun depan tidak ikutan ya..hehe.#maksa. Simpelnya dalam agama  kita ada istilah 'tasyabuh' dan 'Tabzir'. 2 hal ini cukup untuk menghentikan niat kita dari keinginan untuk ikut bagian dalam perayaan tahun baru. Tasyabuh bermakna menyerupai (orang-orang kafir). Kita dapati dalam hadist Rasulullah tentang larangan tersebut : “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50). Dimana perayaan tahun baru masehi dengan segudang aktivitasnya adalah kebiasaan yang tidak pernah dilakukan dan diajarkan dalam agama kita, semua itu adalah budaya yang dipraktekan oleh saudara kita non muslim, dan kita terlarang untuk mengikutinya jika kita tidak mau di golongkan menjadi golongan dari mereka. Bagaimana jika aktivitas malam tahun baru diisi dengan aktivitas keagamaan berupa ta'lim ataupun itikaf merefleksi waktu-waktu yang sudah kita lewati di tahun tersebut.... nah.. tentu boleh, karena yang masalah adalah bentuk perayaanya yang menyerupai seperti yang dilakukan orang-orang kafir, jika di isi dengan aktivitas Ta'lim , Itikaf. merefleksi satuan waktu yang sudah berlalu, bersyukur dari setiap karunia yang sudah Allah berikan, dan beristigfar memohon ampun dari setiap keburukan yang sudah dilakukan, tidak jadi soal bahkan dianjurkan. dan Alhamdullilah di kota-kota besar, aktivitas positif tersebut telah banyak digalakan oleh DKM, oleh organisasi da'wah ataupun lainya, tinggal kemauan kita untuk mengalihkan kebiasaan terhadap aktivitas tersebut. Kemudian Tabzir, adalah bermakna pemborosan dimana kita tahu aktivitas perayaan tahun baru sangat erat dengan aktivitas boros memboros dengan membeli macam-macam kembang api, petasan, melancong ke tempat wisata tertentu hanya untuk merayakan akhir tahun, dan aktivitas serupa lainya, semuanya tentu sangat dekat dengan kemubadziran. Di sedekahkan kepada orang yang membutuhkan, panti asuhan, panti jompo, ataupun lembaga amal adalah jauh lebih bermanfaat.



Kembali ke laptop. Pada akhirnya kami melewati tahun baru seperti biasa saja tanpa ada rasa yang berbeda dari hari biasanya, telinga memang mendengar dentuman petasan dan melihat pula kilauan kembang api yang saling bersahutan, namun jiwa dan hati kami tenggelam dalam aktivitas yang sedang kami lakukan, yaitu..#nanti di jelaskan, pastinya bukan tidur.. hehe.

Mobil yang kami tumpangi perlahan pergi meninggalkan titik awal keberangkatan. Tiupan angin disore hari menghembus hamparan pohon pinus di kawasan hutan lindung maribaya yang jaraknya tidak terlalu jauh dari tempat kami memulai perjalanan, daun dan rantingnya melambai-lambai seolah menyapa ucapan selamat jalan untuk keberangkatan kami. 7 jam lama perjalanan yang harus kami tempuh dengan jarak 236 Km dari bandung ke tempat tujuan. Sepanjang jalan hati riang lagi senang menyelimuti, bagi kami ini bukan sekedar agenda outdor atau traning leadership yang tentunya ada banyak tantangan, rintangan dan tugas-tugas yang harus kami selesaikan tetapi lebih kepada darma wisata menikmati bentangan ayat-ayat qauniyyah agar diri makin tuduk dan syukur di hadapan Rabb sang pencipta sebagaimana jutaan pohon yang akan kami lewati, milyaran kubik tanah yang kami lalui, dan tak terhitung butiran hamparan pasir pantai yang kami tapaki, tanpa lelah dan tiada henti berdzikir kepada sang penciptanya . Ya, gunung, sungai dan pantai, itulah tempat yang akan kami lalui, begitu kabar yang saya dan tim terima dari panitia pelaksana.

Tragedi Subuh
Macet selama perjalanan membuat perjalanan kami molor beberapa jam dari waktu yang sudah di tentukan, sekira 03:30 kami baru sampai di pos pertama. 13 Jam lamanya kami habiskan di perjalanan. Saya sendiri tidak benar-benar bisa menikmati lelap tidur malam itu melainkan mungkin beberapa menit saja, wajar namanya juga di kendaraan, belum lagi campur aduk perasaan was-was dengan mobil yang kami tumpangi beberapa kali terlihat oleng kekiri dan hampir saja masuk jurang karena sang sopir ngantuk berat, rasa takut yang mendera tambah saja tak bisa memejamkan mata.


sesaat setelah sampai di spot pertama

"Bangun...bangun, sudah sampai, silahkan segera berkumpul". Sayup sayup terdengar sang komadan lapangan berteriak memanggil kami yang waktu itu masih berada di dalam mobil.  Sontak saja saya dan kawan-kawan terbangun dan bergegas mengikuti intruksinya. Beberapa saat kemudian tiap-tiap kelompok sudah berkumpul di tempat yang di intruksikan. Tidak semua orang bisa hadir tepat sesuai dengan waktu yang di intruksikan sang komandan, maklum diantara kami beberapa orang usianya tidak lagi muda meskipun tidak juga terlalu tua, namun beberapa diantara kami isi perutnya pada maju bak hamil 7 bulan.. hehe. Alhasil gesit dan cekatan tak lagi begitu nampak. Belum lagi tuntutan alam (baca : buang hajat), yang ditahan-tahan beberapa jam lamanya semenjak dari pemberhentian sebelumnya yang tidak sempat di tuntaskan, menjadikan kami tambah-tambah terlambat dari hitungan mundur sang komandan, dan berbuah hukuman tentunya.

Waktu tepat pukul 03:45. Tiap ketua regu masih sibuk mengumpulkan anggota regunya yang masih hilir mudik diantara kesibukan pribadi dan rasa kantuk yang belum tuntas. Pekat malam masih menyelimuti meski waktu hampir memasuki fajar, terlihat di kejauhan kerlap-kerlip cahaya, pertanda tempat kami memulai agenda jauh dari hiruk pikuk kesibukan penduduk, meski di tempat itupun ada sebagian bangunan-bangunan tempat berjualan yang beberapa diantaranya buka 24 jam, maklum saja tempat tersebut adalah rest area pertama sebelum memasuki area wisata alam Geopark Ciletuh yang luasnya 128 ribu hektar dengan spot yang ditawarkan meliputi perbukitan indah dengan view hamparan laut biru, sungai-sungai dengan air terjun yang menawan, dan tentunya pantai berbentuk teluk dengan hamparan pasir dan ombak ringan yang menggoda.


9 regu telah berbaris rapih dengan anggota 8-9 orang tiap regunya. Komadan lapangan mengintruksikan bahwa tugas pertama kami adalah tracking dengan tidak menyebutkan tujuanya kearah mana, ikuti saja intruksi dari panitia, begitu kira-kira. Andaipun disebutkan saya yang baru pertama kali menginjakan kaki di daerah tersebut tentu sama gelapnya seperti gelapnya malam di waktu itu, jelaslah tidak akan tahu tujuanya kearah mana, makanya manggut saja, hehe. Pukul 04:00 kami bergerak perlahan meninggalkan tempat tersebut. Fajar shadiq di cakrawala mulai menampakan wajahnya, namun gelap tetap masih pekat, lampu senter adalah andalan untuk menerangi dera langkah kami, pepohonan di samping kiri dan kanan berjejer rapih seperti rapihnya kelompok kami saat berjalan, hamparan padi gogo (padi yang biasa di tanam diperbukitan tanpa aliran air) mengiringi pandangan hampir sepanjang perjalanan, sorot lampu senter sesekali menangkap tarian dedaunan padi tersebut, meliuk kekiri dan kekanan tertiup angin malam khas tahun baru, seolah berbahagia menyambut kedatangan kami, angin bertiup tidak terlalu besar, tidak pula terlalu kecil, sejuk terasa jika kebetulan tertiup kearah kami yang mulai sedikit merasa gerah karena terus berjalan. Mula-mula kami berjalan lurus mengikuti jalan aspal yang mulus, kemudian berbelok ke kiri mengikuti jalan berbatu bales (itu istilah di kampung saya, yaitu batu yang di tata sebelum proses pengaspalan), ada yang rata meski cukup licin jika di injak maklum sepertinya hujan di sore hari telah turun di tempat tersebut, adapula yang berlumpur dengan genangan air di beberapa bagian. 45 menit berlalu perjalanan kami sampai di sebuah lapangan. Panitia mengatakan bahwa tempat tersebut adalah spot ke dua kami, disanalah kami melaksanakan shalat subuh berjamaah, sarapan pagi, dan keperluan lainya sebelum melanjutkan ke titik perjalanan berikutnya.. Alhamdulillah.


kenapa Tragedi Subuh, karena disubuh tersebut pengalaman pertama saya jalan kaki sejauh kurang lebih 45 menit sebelum melaksanakan shalat subuh, anggap saja itupun seolah napak tilas sahabat nabi bernama Sya'ban RA yang rela berjalan puluhan kilometer, 3 jam lamanya demi dan untuk shalat berjamaah bersama nabi tercinta. 


Bersambung....

Lembang - 09/01/2018

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment