Pages

Notes From Sukabumi ( Bag.2 - Curug Awang dan Sapaan Nyiur)


    Mentari baru saja menyembul di upuk timur, sekira sebuku jari telunjuk tingginya, jika di ukur dengan terkaan tangan saat di acungkan ke arahnya, menyibak kehangatan pada jiwa-jiwa kami yang mengigil kedinginan. 
     Kicauan burung saling bersahutan, seolah diantara mereka saling berlomba menunjukan siapa yang paling hebat dalam suaranya.
    Nampak di kiri dan kanan beberapa bukit hijau terhampar, cukup jelas terlihat meski pandangan tertutup pepohonan yang berjejer tidak jauh dari tempat kami duduk. Kami baru saja menyelesaikan agenda upacara pembukaan pertanda bahwa acara tersebut resmi punya target dan tujuan, bukan acara asal-asalan, asal datang dan asal pulang, tidak !!!...

    Satu hal yang saya simpulkan adalah bagaimana agenda tersebut mampu melahirkan sifat ta'awun yang lebih kuat dari yang sudah di bangun sebelumnya, terlebih terhadap amanah mendidik yang kini ada pada setiap pundak-pundak kami, seperti ta'awunya kami membangun kelompok menjadi lebih disiplin, seirama, seiya dan sekata. Begitupun dalam menjaga parit perjuangan dakwah di dunia pendidikan, super team adalah keniscayaan, bukan superman, apalagi supermie, terlebih superdog, apalah itu!, itu hanya ada dalam cerita kartun anak balita. 

Ya!... Kebersamaan dalam mengambil dan berbagi peran. Berat sama di pikul ringan sama di jinjing, berdiri sama tinggi duduk sama rendah, karena hebat dalam kesendirian tak ubah singa ompong yang kelelahan, udah ompong lelah pula.

sesi photo sebelum tracking 

Curug Awang
   Setiap regu bebaris rapih satu persatu bergiliran menuruni tangga, kemudian berbelok kekiri lalu lurus mengikuti tambak irigasi. Tidak begitu lama berjalan nampak dari kejauhan sebuah air terjun yang menawan. Itu Curug Awang, "ucap seorang teman yang sedang berjalan tepat di depanku". "Oh... Indah sekali kataku". Tingginya sekitar 40 meter dan lebar 60 meter, balutan batu alam berwarna coklat kemerahan di sepanjang dinding air terjun tampak begitu mempesona, Ia bak air terjun Niagara mini yang berada di Kanada sana. 
    Di musim penghujan biasanya air menutupi seluruh bagian bibir jurang air terjun, indah bagai tirai putih yang tertiup angin sepoy dari sela jendela. Namun sayang pada waktu itu debit air sedang berkurang jadi hanya sebagian saja yang nampak tertutup air.

    Selepas kami berjalan lurus mengikuti tambak irigasi, kemudian berbelok menuruni pematang sawah yang sudah menghijau. Air terjun nampak semakin jelas dari pandangan mata, namun kami harus menuruni semak belukar yang cukup licin tapi itu tidak membuat kami kesulitan untuk melewatinya.
    "Ah... alam mengajarkan agar diri ini makin tunduk kataku", tunduk kepada Rabb sang pencipta alam semesta. 
    Bagaimana tidak, kemegahan alam yang begitu rumit ini, tidaklah mungkin ada secara kebetulan seperti yang di dengungkan oleh orang-orang tak bertuhan. Betul kata guruku, guru mengaji saat kecil dulu, dia berkata... "jika hendak mengetahui adanya Allah, maka lihatlah ciptaanya, berupa bintang yang membentang, gunung yang menjulang, atau sungai yang memanjang", semua pertanda ada yang menciptakanya, Dialah Allah yang maha kuasa. 
   Hingga tak ada alasan bagi manusia untuk nista di hadapNYA, tunduk patuh menjalankan setiap perintahNya dan menjauhi larangaNya adalah keniscayaan bukan pilihan, kala lara mendera, kala suka menyapa, semua sama, rasa taat dan syukur tidak boleh sirna.


curug awang

   Hati sempat bertanya, "kenapa namanya Curug Awang, bisiku". Apa dulu pernah ada seseorang yang bernama Awang meninggal disana, lantas penduduk sekitar menamainya Curug Awang, seperti yang biasa terjadi di kampungku penamaan sebuah tempat tidak lepas dengan kisah yang pernah terikat denganya, tanjakan Darga misalnya dimana seseorang yang bernama Darga pernah meninggal karena kecelakaan disana atau curug Tarna, dimana seseorang bernama Tarna terjatuh dan meninggal disana. Mungkin, itu baru kemungkinan, karena saya tidak sempat menanyakan kisahnya ke warga sekitar yang ada disana. 
    Apalah arti sebuah nama, jika tidak mengandung dan mengundang makna, biarlah Ia apa adanya, sedang tugas kita  cukuplah air terjun tersebut jadi ibroh agar diri makin taqwa sebab itu adalah bukti kebesaraNya.

Nyiur Menyapa
  Gemuruh air terjun menderu tiada jeda, percakapan diantara kami nampak tak begitu jelas terdengar bak pentas drama tanpa suara. Kala pandangan menengadah, gulungan air itu seolah tertumpah dari birunya langit, putih mengepul kala mendarat di pusaran air, yang tak jauh dari tempat dimana aku berpijak.

   Belum lagi puas bersua, panitia mengarahkan kami untuk bersegera melanjutkan perjalanan ke tujuan berikutnya. Aku pikir perjalanan akan di lanjutkan dengan menyebrangi sungai, oh ternyata tidak..., "syukurlah, kataku", air sederas itu bisa menghanyutkan kami, bisa-bisa kembali tinggal nama dan memberi gelar janda kepada istri tercinta. 
   "Ah..., usia itu milik sang pencipta" sembari berjalan pikiranku melayang, sudah tertulis sampai kapan masanya, saat ia datang, tak bisa di undur meski sedetik, dan tak ada cara untuk bisa berlari darinya, bahkan jika memang sudah masanya dengan sukarela kita akan mendatangi tempat dimana ajal akan berakhir, tanpa tanda dan menduga. 

   Kembali kami melanjutkan perjalanan ketempat dimana kami bertemu saluran irigasi di perjalanan sebelumnya, tidak begitu lama berbelok ke kanan memasuki perbukitan rendah setelah melewati sebuah rumah berbilik bambu dengan anjing yang terus menggongong sebagai penjaganya. Aku tak hafal betul sudah pukul berapa di saat itu, namun pancaran mentari sudah semakin hangat mendekati panas. 
   Deretan pohon nyiur mulai menyapa, berjejer sepanjang mata memandang, terlihat gubuk-gubuk berdiri di antara sela-selanya, sekira berjarak kiloan meter antara satu dan lainya. Sepertinya gubuk tersebut di gunakan untuk mengolah air kelapa menjadi gula, karena di beberapa tungku teronggok kuali besar sebagai alat pemasaknya. Dan benar saja setelah kudengar salah seorang panitia yang tahu benar daerah tersebut, berbicara bahwa daerah itu memang penghasil gula.

Bersambung...
Lembang, 12 Januari 2018

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment