Pages

SEMUA GARA-GARA DIA



Islam telah mengatur dengan indah, bagaimana mengelola cinta dengan benar sesuai dengan fitrahnya, termasuk cinta terhadap lawan jenis. Ia, manakala di bingkai dengan keta'atan sesuai ketentuan sang pencipta, pasti akan berakhir indah dan bahagia, dan manakala lalai dari titahnya pasti pula akan berakhir celaka dan nista.

Baru-baru ini kita di segarkan dengan sebuah kisah pilu dari kefatalan dalam mengelola dan mengekspresikan sebuah cinta, cinta yang di tumbuhkan bukan pada tempatnya dan bukan pada masanya, pada akhirnya berakhir petaka.

11 Januri 2018 adalah akhir cerita dari seorang gadis bernama Sr* Isw*nti, asal Kulon Projo, usianya baru saja menginjak 20 Tahun, namun sayang cerita hidupnya tidak semanis usia yang telah di sandangnya, Ia tewas di tangan seorang lelaki yang selama ini begitu di cintainya gara-gara cemburu yang membuta, dia tega menghabisi nyawanya.

Beberapa media baik TV ataupun online mengabarkan, bahwa dia mati mengenaskan didalam sumur tua dengan posisi kepala terbenam kedalam air, tangan terikat, dan lebam di sekujur badan.

Mungkin dalam hati kita berfikir "mana mungkin jika seseorang saling mencintai lantas gara-gara masalah kecil berupa kesalahfahaman mereka bisa tega saling aniaya yang berakhir hilang nyawa".

Padahal kata 'halal' belum juga melekat diantara keduanya, hubunganya hanya sebuah ikatan biasa tanpa kesakralan, anak perempuanya masih menjadi hak kedua orangtuanya, dan anak laki-lakinya tak ada kewajiban dan keharusan apapun untuk menafkahi anak perempuanya.

Masyarakat kita menyebutnya dengan sebuah istilah 'PACARAN' saya sendiri menyebutnya 'Ikatan Kemaksiatan'. Sebuah budaya yang sudah melekat kuat diantara masyarakat kita saat ini, khususnya kalangan remaja, manakala rasa suka tumbuh diantara mereka, maka PACARAN dianggap sebagai sebuah solusi untuk menyatukanya.

Pada praktiknya budaya PACARAN, adalah sebuah penyakit yang mematikan dalam adat ketimuran kita. Begitu banyak gelombang kerusakan dan kehancuran  yang telah di buatnya.

Sebuah survei yang dilakukan oleh  Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) pada tahun 2010, mengatakan bahwa 66% pelajar SMP dan SMA di seluruh Indonesia sudah tak lagi perawan, artinya diantara mereka sudah pernah melakukan hubungan badan layaknya suami istri. Dan itu bermula dari sebuah ikatan bernama PACARAN. Mereka anggap sebagai sebuah pembuktian cinta jika bisa melakukanya, padahal sebuah kebodohan tiada tara. Bagaimana sang perempuan melegalkan sesuatu yang sangat berharga dalam dirinya di renggut oleh orang yang bukan haknya.

Itu tahun 2010, bagaimana dengan 2018 sekarang?, dimana era digital sudah jauh lebih canggih dari 7 tahun yang lalu. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana melonjaknya angka tersebut jika survei itu dilakukan kembali.

Belum lagi dampak yang lebih mengerikan dari itu semua, hamil diluar nikah, HIV, dan lain sebagainya, berita tersebut telah kita santap tiap hari dari tahun ke tahun. Sungguh sebuah tontonan yang menyesakan dada.

Ini adalah salah satu bencana sosial yang kini benar-benar telah terjadi diantara kita, sadar ataupun tidak kehancuran itu telah terjadi merenggut satu persatu generasi umat Islam kepada lubang kebinasaan.

Apa Penyebabnya?.
Sekulerisme adalah satu diantara banyak penyebabnya bagaimana sumber kehancuran itu bermula dari menjauhkan agama dari urusan negara.

Tengok!, bagaimana pelajaran agama kian di marginalkan dalam bangku-bangku pendidikan, bagaimana pelajaran agama kian di kaburkan dalam tontonan-tontonan, jikapun muncul hanyalah sebuah komoditas yang di perjualbelikan.

Aneh memang, standar ganda yang menyakitkan bagi umat Islam, para elite politik begitu gencar agar jangan bawa-bawa agama kedalam negara, padahal pada saat yang sama mereka memasukan liberalisme, komunisme, bahkan atheisme kedalam negara.

Lihat bagaimana anak-anak muda kini, tergerus jauh meninggalkan agamanya, surau-surau dan majlis ilmu tak lagi menarik bagi mereka, padahal itu jalan keselamatanya. Tepat jika kita mengatakan hal itu memang di sengaja diciptakan.

Apa Solusinya?.
Solusinya tiada lain adalah kembali kepada Islam baik secara kultural ataupun perundang-undangan, dalam agama kita jelas bahwa tidak ada ikatan apapun antara dua insan yang saling mencintai selain dalam dibingkai pernikahan. Jika belum mampu menikah, ya tinggalkan.

Bersambung...

Lembang, 29/01/2018

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment