Pages

Jalan Syukur



Adzan dzuhur baru saja selesai berkumandang, perlahan saya beranjak menuju mushala yang jaraknya sekira 50 atau 60 Meter saja dari tempat dimana saya melepas lelah.

Jarak yang tidak terlalu jauh, namun perlu energi dan semangat yang kuat agar bisa bergerak untuk menunaikan shalat berjamaah.

Sebab nyatanya bukan soal jarak yang menjadikan berat langkah untuk menunaikanya, tapi soal hati yang tertutup noda dosa. Mesjid, Ia ada di depan mata namun tak terjaungkau oleh ukuran langkah.

***
Iqamah berkumandang, saya mulai merapatkan barisan dengan para makmun yang lain.

Tidak banyak orang yang shalat berjamaah di saat itu, kami hanya berlima dengan sang Imam.

"mungkin sebab mesjidnya kecil hingga jamaah lain memilih masjid yang lebih besar" ungkapku dalam hati.

Saya berdiri di posisi paling kiri diantara makmum yang lain.

Rakaat demi rakaatpun berlalu, tiba saatnya memasuki rakaat ketiga kemudian sang Imam rukuk dan kamipun mengikutinya.

Tiba-tiba pandangan mata tak sengaja melihat kaki teman makmum yang berdiri tepat di sebelah kanan. Rasa aneh menyelimuti sebab kaki kananya memiliki ukuran dan warna berbeda dari kaki kirinya. Coklat terang dan lebih kecil.

Ah..Setan memang pandai siasat untuk menghilangkan khusyu bagi orang yang shalat, hingga tak jarang yang benar-benar di ingat adalah saat takbiratul ikhramnya saja, selebihnya antara pikiran, bacaan dan gerakan berada di dunia yang berbeda. Mungkin saya juga kala itu tak jauh seperti itu. Semoga Allah ampuni.

***
Shalatpun berakhir kemudian dilanjutkan dzikir ba'da shalat.

Para makmum ikut menyilakan kaki mengikuti komando sang iman, tidak terkecuali sang makmum yang saya maksudkan.

Dan masyaAllah, keanehanpun terjawab bahwa kaki kanannya telah berganti dengan kaki palsu. 

Fisiknya masih muda dan rupawan, namun Allah telah mengujinya dengan kehilangan salah satu anggota tubuh yang sangat penting,  pastinya buka ujian yang mudah untuk di jalani jika tanpa iman dan ketabahan. 

Sang pemuda tetap melaksanakan shalat berjamaah meski dengan keterbatasan, satu diantara pelajaranya adalah kehilangan anggota tubuh sebab kecelakaan ataupun bawaan lahir bukanlah suatu masalah yang harus di risaukan, karena Allah maha adil, kala memiliki kekurangan, pasti Allah berikan kelebihan lain yang lebih baik. Kehilangan anggota tubuh jangan sampai membuat kehilangan Allah dihati kemudian hilang ketaatan kepadaNYA.

Saya coba berseloroh mengucap salam dan jabat tangan, dilanjutkan obrolan ringan sebagai tanda persaudaraan. Tidak banyak bertanya lebih jauh tentang sebab kehilangan kakinya, saya berpikir tidak tepat menanyakan hal itu mengingat baru pertama kali bertemu, khawatir nanti menyinggung perasaan.

***
Saya masih duduk di tempat dzikir kala beliau undur diri berpamitan.
Termenung tentang pelajaran syukur yang baru saja di dapatkan.

Rasanya saya hampir melupakan rasa syukur dengan lengkapnya seluruh anggota tubuh yang telah Allah anugerahkan. Kaki, tangan, hidung, mata, telingan dan lainya lengkap sempurna. 

Bukankah kelak semuanya pasti di mintai pertanggungjawaban, semua tidak ada yang luput dari penghisaban. Allah berfirman dalam Al-Quran :
"Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan tangan-tangan mereka berkata kepada Kami dan kaki-kaki mereka memberi kesaksian terhadap apa yang telah mereka usahakan." ( QS Yasin :65 ).

Ya. Rabb. Golongkan kami menjadi hamba-hamba ahli syukur.


Bandung, 24 November 2018 (05:46)

ubaidillah

Perkenalkan nama saya Acep Firmansyah. Saya senang menulis berbagai hal mengenai aktivitas pribadi, isu-isu terkini, dan berbagai hal lainya. Terimakasih sudah berkunjung . Semoga teman-teman bisa mengambil manfaat.

No comments:

Post a Comment